• Tue, 19 June 2018
31 May
INDUSTRI MAKANAN & MINUMAN : Pasokan Bahan Baku Jadi Kendala

Annisa Sulistyo Rini Rabu, 30/05/2018 02:00 WIB

JAKARTA—Pabrikan makanan dan minuman berharap pemerintah dapat menjawab hambatan ketersediaan bahan baku untuk mendongkrak daya saing industri.n

Sektor makanan memberikan kontribusi tertinggi atau mencapai US$7,42 miliar terhadap total ekspor industri pengolahan pada kuartal I/2018. Dua sektor lain yang masuk ke dalam peringkat tiga besar penyumbang ekspor adalah industri logam dasar senilai US$3,68 miliar, dan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia senilai US$3,25 miliar. Industri manufaktur mencatatkan nilai ekspor sebesar US$32 miliar pada kuartal I/2018, naik 4,5% dibandingkan dengan performa pada periode yang sama tahun lalu.

Produk makanan olahan yang banyak diekspor di antaranya produk olahan kopi, olahan teh, olahan kakao, biskuit, dan permen dengan negara tujuan utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara kawasan Timur Tengah.

Adhi S Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), mengatakan saat ini banyak tantangan yang dihadapi sektor makanan yang menghambat peningkatan ekspor, terutama masalah ketergantungan bahan baku yang tinggi. Dukungan pemerintah yang dinilai masih minim untuk mengembangkan industri hulu menyebabkan pasokan di dalam negeri tidak sanggup menyamai kebutuhan pabrikan.

Adhi mencontohkan sektor pengolahan kakao. Pada 2010, pemerintah mengadakan program gerakan nasional dan mendorong industrialisasi dengan menaikkan bea keluar sebesar 10% dengan tujuan agar biji kakao diolah di dalam negeri. Dalam kurun waktu 4 tahun, kapasitas industri pengolahan kakao naik dari 100.000 ton per tahun menjadi 600.000 ton per tahun.

Namun, gerakan garnas hanya berlangsung sekitar 2 tahun. Hasilnya, produksi kakao domestik menurun dari sekitar 950.000 ton menjadi 400.000 ton. Industri pengolahan pun akhirnya mengimpor bahan baku kakao karena produsen dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan.

Selain itu, produk susu juga hanya mampu memenuhi 20% kebutuhan industri pengolahan karena produksi dan populasi sapi perah yang kurang. Padahal dari sisi kualitas, susu dalam negeri sudah dapat diserap oleh industri.

"Sektor hulu ini harus diperbaiki untuk meningkatkan daya saing," katanya di Jakarta, Senin (28/5).

Adhi juga berharap pemerintah dapat melonggarkan ketentuan impor bahan baku untuk komoditas yang belum dapat dipenuhi di dalam negeri. Pasalnya, kelancaran pasokan bahan baku akan meningkatkan nilai tambah dan penciptaan lapangan kerja.

Saat ini, masih terdapat regulasi yang kurang mendukung industri, seperti impor gula yang dikenai bea masuk tinggi. Namun, impor produk jadi yang mengandung gula justru dikenakan bea masuk 0% hingga 5%.

"Negara lain, seperti Singapura itu enggak mikir impor atau enggak impor bahan baku karena memang terbatas sumbernya. Namun mereka dapat mengekspor produk jadi yang murah," kata Adhi.

Peningkatan ekspor produk makanan menjadi penting untuk menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat seperti yang terjadi saat ini. Namun, ekspor produk makanan tidak akan maksimal selama sinkronisasi belum terjadi dan hambatan tarif dan nontarif yang dikenakan negara tujuan ekspor diatasi.

//Peningkatan Ekspor//

Sebelumnya Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan pihaknya terus menarik investasi baru maupun untuk perluasan dalam upaya peningkatan ekspor produk manufaktur. Pada 2030, ditargetkan ekspor Indonesia mencapai 10% dari produk domestik bruto.

Melalui penanaman modal tersebut, industri pengolahan juga akan membawa dampak berganda pada perekonomian nasional seperti penyerapan tenaga kerja, peningkatan nilai tambah bahan baku dalam negeri, dan penerimaan negara dari ekspor.

Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas produksi serta akses kemudahan dalam upaya memperluas pasar produk industri, baik di pasar domestik maupun ekspor.

“Kalau pasarnya optimal, produksinya juga bisa lebih maksimal,” katanya.

Selain untuk meningkatkan ekspor, investasi yang ditarik ke dalam negeri, juga diarahkan sebagai substitusi impor sehingga akan menghemat devisa negara.

Airlangga juga mengatakan industri pengolahan dalam negeri tidak boleh melupakan pasar domestik yang sangat besar. Apabila pasar dalam negeri tidak dimanfaatkan dengan baik, maka akan diisi oleh produk impor.

"Kalau kita ekspor, tetapi banyak impor juga kan percuma. Makanya, pengembangan industri untuk substitusi impor, pendalaman struktur, dan export oriented harus dijaga ketiga-tiganya," ujarnya.

Terkait dengan penanaman modal, Kemenperin mencatat investasi industri manufaktur sepanjang kuartal I/2018 mencapai Rp62,7 triliun. Realisasi ini terdiri dari penanaman modal dalam negeri senilai Rp21,4 triliun dan penanaman modal asing sebesar US$3,1 miliar.

(Sumber: Bisnis)