• Sun, 27 May 2018
16 May
INDUSTRI KIMIA, TEKSTIL & ANEKA : Performa Kuartal I Masih Positif

Annisa Sulistyo Rini Selasa, 15/05/2018 02:00 WIB

Ilustrasi kegiatan di pabrik tekstil

JAKARTA—Industri kimia, tekstil, dan aneka pada kuartal I/2018 masih tumbuh positif, tetapi jauh lebih rendah dibandingkan dengan besaran persentase peningkatan pada periode yang sama tahun lalu.n

Tekanan dari performa industri kimia yang mengalami koreksi menghambat laju pertumbuhan di industri kimia, tekstil, dan aneka (IKTA).

Sebagai perbandingan, pada 3 bulan pertama tahun lalu, sektor IKTA tumbuh sebesar 5,16% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh sektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sebesar 10,40%.

Achmad Sigit Dwiwahjono, Dirjen IKTA Kementerian Perindustrian, mengatakan pada kuartal I tahun ini sektor kimia justru menurun 12%. Hasilnya, pertumbuhan IKTA secara keseluruhan berada di bawah angka pertumbuhan tahun lalu.

"Yang down itu kimia karena impor mencapai US$20 miliar, kalau dolar naik bahan baku juga naik. Petrokimia misalnya, dulu harga minyak dunia di bawah US$50 per barel, sekarang US$60—US$70, padahal bahan baku itu 90% impor," katanya di Jakarta, Senin (14/5).

Untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor di sektor kimia, pemerintah mulai mendorong pengembangan industri petrokimia berbasis gas, misalnya di kawasan Bintuni, serta investasi nafta cracker oleh Chandra Asri Petrochemical dan Lotte Chemical.

Sementara itu, sektor lain seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, farmasi, serta semen masih tumbuh positif, bahkan di atas ekspektasi Kemenperin. Sigit memerinci industri TPT tumbuh 7,53%, alas kaki tumbuh 5%, semen 5%, dan farmasi 7,6%.

"Industri TPT itu naik karena persiapan jelang lebaran," katanya.

Hingga akhir tahun, Kemenperin menargetkan sektor IKTA tumbuh sebesar 4,5% secara tahunan.

//Penurunan Produksi//

Dihubungi terpisah, Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan pada kuartal I/2018 industri plastik mengalami penurunan produksi karena dipengaruhi hari libur tahun baru China. Kendati demikian, asosiasi masih meyakini industri ini bisa tumbuh 5,5% seiring dengan proyeksi pertumbuhan industri makanan dan minuman yang di atas 10%.

Fajar berharap daya beli masyarakat terus membaik dan tidak terpengaruh oleh penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Dari sisi pemerintah, dia berharap kebijakan yang akan dirilis tidak memberatkan industri pengguna.

Dia mencontohkan, produsen air minum dalam kemasan (AMDK), yang banyak menggunakan kemasan botol plastik, tengah was-was apabila rancangan undang-undang sumber daya air diterapkan.

"Jangan sampai kebijakan pemerintah tidak sinkron dengan industri karena kalau itu diterapkan akan ada stagnasi permintaan," jelas Fajar.

Sementara itu, Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyatakan industri pakaian jadi pada kuartal I/2018 mencatatkan pertumbuhan ekspor sekitar 11% secara tahunan yang didorong oleh permintaan dari Jepang dan Korea Selatan.

"Selain itu, pertumbuhan tersebut merupakan hasil relokasi pabrik yang dilakukan 3 tahun lalu ke Jawa Tengah," ujarnya.

Untuk mengenjot ekspor pakaian jadi, Ade berharap pemerintah segera menyelesaikan perjanjian perdagangan dengan Eropa untuk meningkatkan ekspor. Pasalnya, Eropa merupakan pasar terbesar di dunia setelah China.

Produk tekstil Indonesia masih sulit menembus pasar Eropa karena dikenakan bea masuk sekitar 11% hingga 19%. Sementara itu, negara produsen tekstil lain seperti Vietnam, Bangladesh, dan Pakistan telah dibebaskan dari bea masuk.

Terkait dengan industri tekstil, Kemenperin menegaskan komitmen untuk fokus menggelar revitalisasi industri tekstil pada sektor hulu.

Sigit mengatakan program tersebut difokuskan ke industri tekstil hulu seperti benang, kain, pencelupan, dan sebagainya, karena impor bahan baku tekstil masih cukup tinggi. Selain itu, industri garmen atau pakaian jadi dalam negeri sudah mampu bersaing secara global.

"Revitalisasi masih kami usahakan berupa pendanaan berbunga rendah dari China atau bantuan penggantian bea masuk untuk mesin," ujarnya.

Kemenperin berencana melanjutkan kembali program revitalisasi industri tekstil setelah program ini diberhentikan pada 2015 untuk dievaluasi. Setelah evaluasi, program revitalisasi untuk mesin dan peralatan tekstil ternyata sangat efektif dalam mendorong pertumbuhan industri ini, terutama dalam meningkatkan utilisasi.

Sigit menuturkan program revitalisasi industri tekstil tersebut akan dimulai lagi pada 2019. "Kalau untuk sekarang, fasilitas bukan soal dana, tetapi misalnya dipermudah bertemu investor untuk penyediaan peralatan," jelas Sigit.

Editor : Ratna Ariyanti

 

(Sumber : Bisnis.com)