• Sun, 27 May 2018
15 May
INDUSTRI TEKSTIL : Pasokan Rayon Berlimpah

Annisa Sulistyo Rini Senin, 14/05/2018 02:00 WIB

Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka Kementerian Perindustrian Muhdori (tengah) bersama Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat (kedua kanan) mengamati mesin tekstil, seusai membuka pameran Indo Intertex 2018, di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (4/4/2018).

JAKARTA—Ekspor rayon perlu digenjot untuk menghindari kelebihan pasokan di dalam negeri seiring dengan pengoperasian sejumlah pabrik baru.n

Redma Gita Wirawasta, Sekjen Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), mengatakan saat ini terdapat satu pabrik rayon terintegrasi yang tengah dibangun, yaitu Asia Pacific Rayon dengan kapasitas 350.000 ton per tahun. Pabrik ini diperkirakan paling cepat selesai pada akhir tahun ini.

"Dengan kapasitas sebesar itu, rayon bisa oversupply. Jadi, harus push ekspor," ujarnya ketika dihubungi Bisnis akhir pekan lalu.

Selain ekspor, kapasitas pemintalan atau spinning juga harus ditambah untuk menghindari kondisi kelebihan pasokan rayon di dalam negeri. Namun, peningkatan kapasitas pemintalan dinilai sulit karena impor kain masih sangat tinggi.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), impor serat tekstil dan barang kertas sepanjang Maret 2018 turun 14,27% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sementara itu, kain rajutan, kain tenunan khusus, dan kain ditenun berlapis masing-masing turun sebesar 22,88%, 21%, dan 11,80% secara bulanan.

Sebelumnya, pada tahun lalu pabrik rayon PT Rayon Utama Makmur mulai beroperasi dengan kapasitas terpasang sebesar 150.000 ton per tahun. Dengan penambahan pabrik Rayon Utama Makmur, kapasitas terpasang serat rayon nasional mencapai sekitar 1,01 juta ton per tahun dengan utilisasi pabrik serat rayon diperkirakan hanya berkisar 55%. Adapun, industri tekstil hilir dalam negeri disebutkan mengimpor rata-rata 100.000 ton serat rayon per tahun.

Dari sisi produksi, pada periode Januari hingga Maret 2018, industri tekstil hulu masih meningkat sebesar 8% secara tahunan. "Pertumbuhan tersebut didorong oleh permintaan domestik. Masih ada faktor pengetatan impor borongan dan impor lainnya, jadi konsumen dalam negeri masih mencari produk lokal," katanya.

Namun, untuk kuartal selanjutnya, asosiasi mengkhawatirkan impor bakal mulai banyak masuk, terutama impor kain dari Pusat Logistik Berikat (PLB). Menurut Redma, hal ini disebabkan importir sangat difasilitasi oleh Kementerian Perdagangan melalui Permendag 64/2017.

Kalangan industri mengingatkan pemerintah untuk kembali berpihak pada sektor industri nasional yang menjadi penopang utama perekonomian. Redma menuturkan selepas kebijakan penertiban impor borongan, kinerja industri TPT pada semester II/2017 naik sehingga mencapai pertumbuhan sebesar 2,5% dari tahun sebelumnya yang masih negatif.

"Semester II tahun lalu penjualan produsen lokal naik rata-rata 30%, ini karena barang impor tidak bisa masuk," ujar Redma.

//Pakaian Jadi//

Sementara itu, industri pakaian jadi pada kuartal I/2018 mencatatkan pertumbuhan ekspor sekitar 11% secara tahunan yang didorong oleh permintaan Jepang dan Korea Selatan.

Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), mengatakan sejak tahun-tahun sebelumnya, permintaan kedua negara tersebut menjadi pendorong pertumbuhan ekspor.

"Selain itu, pertumbuhan tersebut merupakan hasil relokasi pabrik yang dilakukan 3 tahun lalu ke Jawa Tengah," ujarnya pekan lalu.

Editor : Ratna Ariyanti

 

(Sumber : Bisnis.com)