• Sun, 27 May 2018
15 May
DAMPAK CUTI LEBARAN : Industri TPT Kebut Produksi

Deandra Syarizka Jum'at, 11/05/2018 02:00 WIB

Hal tersebut dilakukan untuk mencegah hilangnya potensi ekspor TPT senilai US$500 juta pada Juni tahun ini, akibat pemberlakukan ekstensi libur panjang selama tujuh hari yaitu pada 11—14 Juni dan 18—20 Juni 2018.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengapresiasi kebijakan pemerintah yang mengakomodasi usulan pelaku usaha, yaitu dengan memberlakukan aturan cuti bersama yang bersifat fakultatif bagi pegawai perusahaan swasta.

“ itu sudah menjawab , sudah selesai. Bank juga sudah mulai buka pada 19 Juni. Penyiasatan adalah dengan mempercepat dan membuat lembur lebih banyak sebelum Ramadan,” katanya, Rabu (9/5).

Dia menjelaskan saat ini terdapat 1.600 perusahaan garmen yang tergabung di API, dari total 4.600 perusahaan yang ada di seluruh Indonesia. Para anggota API itu menyerap sekitar 1 juta tenaga kerja.

“Bagaimanapun, kalau ekspor tidak jalan, kami akan repot. Apalagi kalau tidak boleh pakai jalan tol,” keluhnya.

Dia mengaku telah melayangkan surat usulan bersama dengan Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSYFI) kepada Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian mengenai dampak cuti bersama Lebaran terhadap industri TPT.

Di dalam surat yang diterima Bisnis itu, mereka mengklaim industru hulu TPT beroperasi selama 24 jam sehari tanpa henti dengan total kapasitas produksi 7.700 ton/hari yang berlokasi di Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Keterlambatan dan kekurangan bahan baku akan berimbas pada matinya lini produksi yang memerlukan waktu 1 bulan penyesuaian untuk mengaktifkan kembali.

Adapun, bahan baku diperoleh dari produsen di Serang, Banten dan dari impor melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Sistem Pergudangan perusahaan baik gudang pabrik maupun gudang pelabuhan hanya mampu menampung stok 3-4 hari, sehingga pelarangan transportasi lebih dari dua hari akan sangat mengganggu operasional perusahaan.

MINTA KEJELASAN

Di pihak lain, APSYFI meminta kejelasan kepada pemerintah mengenai kebijakan pembatasan transportasi barang dan logistik yang berlaku selama libur Lebarnya. Pasalnya, libur berkepanjangan dan pembatasan operasional transportasi darat akan membahayakan produksi industri TPT.

Executive Member APSYFI Prama Yudha menjelaskan operasi produksi perusahaan yang tergabung dalam asosiasinya berjalan selama 24 jam setiap harinya dengan pasokan bahan baku terus menerus.

“Kalau yang dibuka hanya pelabuhan, tetapi transportasi darat dibatasi ya sama saja. Karena kalau bahan baku datang tidak bisa diangkut ke pabrik dan produksi pabrik tidak bisa diangkut ke pelabuhan karena jalan ditutup tidak ada artinya,” ujarnya.

Dia telah melayangkan surat usulan ke Kementerian Perhubungan agar industri serat dan benang diberikan izin transportasi terbatas khusus bahan baku dengan penutupan tidak lebih dari 36 jam. Namun, sejauh ini dia menyatakan belum mendapatkan respons dari Kemenhub.

Menurutnya, pelarangan transportasi lebih dari dua hari untuk baku utama industri hulu TPT (polyester dan rayon) mengakibatkan proses produksi harus dihentikan selama satu bulan. Sifat operasi 24 jam memerlukan proses pembersihan, perawatan, setting mesin jika pabrik terhenti tanpa bahan baku.

Kondisi ini berimbas pada kelangkaan bahan baku utama di industri TPT selama satu bulan setelah liburan. Sementara, sistem pergudangan hanya mampu menampung bahan baku untuk stok tiga sampai empat hari.

“Kalau tidak ada bahan baku tentu tidak bisa berproduksi dan tidak bisa ekspor. Total ekspor tekstil rata-rata US$1 miliar per bulan. Jadi kalau setengah bulan hilang, ruginya kurang lebih segitu,” ujarnya.

Seperti diketahui, ekspor produk TPT Indonesia menyentuh US$12,53 miliar pada 2017, naik 5,95% dari tahun sebelumnya di mana total ekspor mencapai US$11,83 miliar. Tahun ini pertumbuhan ekspor TPT diestimasikan meningkat 6% dari ekspor tahun lalu.

Editor : Wike Dita Herlinda

 

(Sumber : Bisnis.com)