• Fri, 20 July 2018
10 Apr
Indonesia terus kembangkan produksi garam

Minggu, 08 April 2018

ILUSTRASI. Garam dapur

Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia terus mengembangkan produksi garam rakyat guna memenuhi kebutuhan nasional. Produksi tersebut dinilai perlu dilihat dari segi kualitas serta harga demi meningkatkan daya saing garam rakyat.

"Menjawab pergaraman nasional ada dua membuat garam bagus dengan kualitas hampir sama dengan impor tetapi dengan harga lebih murah," ujar Kasubdit Pemanfaatan Air Laut dan Biofarmakologi, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Zaki Mahasin kepada Kontan.co.id, Minggu (8/4).

Sebelumnya telah dilakukan pelatihan produksi garam menggunakan teknologi Bestekin. Setelah itu akan dilakukan replikasi di 17 titik dengan luas lahan sekitar 1 hektare (ha) per titiknya.

Replikasi dinilai tidak mudah dikarenakan perlu melakukan pelatihan bagi petani dan penyiapan lahan. Bila replikasi telah berhasil tahun 2018, Zaki bilang tahun 2019 akan dilakukan nasionalisasi.

Proses nasionalisasi dinilai akan membuat harga garam yang diproduksi lebih murah. "Skala produksi yang lebih besar maka harga akan lebih murah," jelas Zaki.

Hasil produksi garam dengan teknologi Bestekin tersebut tidak hanya memperbaiki kualitas. Secara kualitas, Zaki bilang hasil dari satu ha sama dengan hasil dari 10 ha.

Namun, untuk menggunakan teknologi tersebut diperlukan investasi yang besar. Zaki bilang investasi yang dibutuhkan mencapai Rp 2 miliar per ha.

Meski begitu investasi hanya perlu dilakukan saat pertama. Sehingga biaya yang dikeluarkan untuk produksi garam akan dapat ditekan menjadi lebih murah.

Sebelumnya Koperasi Sekunder Induk Garam Nasional (SIGN) telah melakukan uji coba tersebut. Koperasi yang berada di bawah KKP ini melakukan panen garam dengan menggunakan teknologi Bestekin.

Biaya investasi didapat dengan melakukan kerjasama dengan perbankan. "Program di bawah KKP ini didukung oleh pembiayaan dari BNI," jelas Kepala Divisi Humas Koperasi Sekunder Induk Garam Nasional (SIGN), Jakfar Sodikin.

(Sumber: Kontan)