• Thu, 26 April 2018
10 Apr
IMPOR BAHAN BAKU : Aktivitas Manufaktur Bakal Menggeliat

Senin, 09/04/2018

Aktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (13/2).

JAKARTA—Kenaikan impor bahan baku sebesar 23,8% pada Januari—Februari tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu memberi sinyal bakal adanya peningkatan aktivitas manufaktur.

Kepala Badan Pengajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan Kasan Muhri mengatakan sepanjang Januari—Februari 2018 impor bahan baku naik sebesar 23,8% dan impor barang modal turut meningkat 31,2% secara year-on-year (yoy).

Kenaikan impor terjadi pada suku cadang dan alat angkutan serta bahan baku untuk industri. Sementara itu, barang modal yang turut melonjak antara lain alat berat dan alat angkutan.

"Dengan demikian kinerja impor bahan baku dan barang modal selama dua bulan pertama 2018 tersebut memberikan sinyal positif bergeraknya aktivitas industri di dalam negeri baik untuk tujuan ekspor maupun pemenuhan pasar dalam negeri," katanya kepada Bisnis, Minggu (8/4).

Badan Pusat Statistik mencatat selama Februari 2018 golongan bahan baku/penolong memberikan peranan terbesar yakni 74,43% dengan nilai US$10,579 miliar diikuti oleh impor barang modal sebesar 15,85% atau US$2,252 miliar. Adapun impor barang konsumsi mencapai 9,73% atau US$1,381 miliar.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama sebelumnya, selama Januari hingga Februari 2018 nilai impor barang konsumsi, bahan baku penolong, dan barang barang modal mengalami peningkatan masing-masing sebesar US$842,5 juta atau 44,30%, US$4,233 miliar atau 23,76% dan US$1,124 miliar atau meningkat 31,16%.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan menyebutkan kenaikan nilai impor bahan baku jangan dipandang negatif karena sebaliknya hal itu menjadi sinyal meningkatnya aktivitas industri dalam negeri.

Menurut Oke, pemerintah terus menargetkan kenaikan nilai ekspor. Target ekspor 2018 diharapkan naik 11%. Adapun kenaikan ekspor pada 2017 dibandingkan dengan tahun sebelumnya mencapai 15,6%.

Kemendag telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk memudahkan impor bahan baku termasuk untuk industri kecil dan menengah (IKM). Selain itu, pemerintah juga menerapkan program tata niaga impor dengan menggeser dari border ke post border dan penyederhanaan perizinan, dan harmonisasi kebijakan.

//Antisipasi Permintaan//

Pada kesempatan terpisah, pelaku industri makanan dan minuman menyatakan kenaikan impor bahan baku merupakan antisipasi lonjakan permintaan pada momen perayaan Ramadan dan Idulfitri.

Adhi S Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) menyatakan sepanjang Januari hingga Februari permintaan akan produk makanan dan minuman belum membaik. Sepanjang awal 2018 ini malah terjadi perlambatan permintaan.

"Semenjak Maret kemarin terlihat kenaikan penjualan," kata Adhi, Minggu (8/4).

Industri berharap momen puasa dan perayaan oleh umat Islam dapat mendongkrak permintaan. "Diharapkan pada kuartal kedua terlihat realisasi peningkatan penjualan," katanya.

Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, menuturkan pabrikan di sektor ini juga berharap adanya peningkatan permintaan pada saat Idulfitri. Saat ini, performa penjualan masih lebih buruk dibandingkan dengan tahun lalu. Meski menyebut penjualan di bawah ekspektasi, Ade tidak merinci besaran penjualan yang sudah dibukukan industri TPT. Adapun target yang dicanangkan yakni pertumbuhan sebesar 4% belum akan direvisi.

(Sumber: Bisnis)