• Sat, 22 September 2018
10 Apr
BMAD KAWAT baja CHINA : Masih Ada Celah Manipulasi Pos Tarif

Anggara Pernando, Annisa Sulistyo Rini & Rayful Mudassir Senin, 09/04/2018 02:00 WIB

Ilustrasi

JAKARTA — Impor batang kawat baja (steel wire rod) dari China akhir­­nya dikenai bea masuk anti dumping sebesar 10,2%–13,5%, setelah terbukti dumping dan merugikan industri lokal.

Keputusan itu tertuang dalam PMK No. 27/PMK.03/2018 tentang Pengenaan Bea Masuk Anti-dumping (BMAD) terhadap Produk Steel Wire Rod dari China. Pengenaan BMAD ini berlaku sejak 3 April 2018 hingga 3 tahun ke depan.

Namun, Wakil Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) Ismail Mandry menyayangkan adanya jenis baja yang dikecualikan dari pengenaan BMAD dalam beleid tersebut, yakni baja paduan.

Dengan adanya pengecualian tersebut, dia khawatir produk baja asal China yang semestinya dikenai BMAD, tetap bisa bebas masuk pasar dengan cara memanipulasi atau 'melarikan' nomor harmonized system (HS).

“Pengecualian pengenaan BMAD terhadap baja paduan bisa menjadi celah bagi para importir nakal untuk melarikan HS number,” ujar Ismail Mandry, kepada Bisnis, Minggu (8/4)

Menurut dia, pengenaan BMAD di negara lain tidak pernah ada pengecualian.

"Nah, di PMK tersebut terdapat pengecualian. Ini menjadi celah bagi importir yang akan memasukkan produk baja karbon menjadi baja paduan dengan dilapisi krom atau boron,” ujarnya.

Pengecualian tersebut, menurut Ismail, juga akan menyulitkan implementasi di lapangan. “Kami saja kalau hanya melihat produk juga kesulitan membedakan mana yang tidak dilapisi, mana yang tidak,” katanya.

Kendati terdapat potensi manipulasi nomor HS, Ismail berharap pengenaan BMAD tersebut dapat mengendalikan arus impor batang kawat baja dari China.

Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Robert L. Marbun menegaskan berdasarkan hasil investigasi Komite Anti Dumping Indonesia (KADI), terbukti eksportir batang kawat baja dari China melakukan dumping dan terdapat hubungan sebab akibat dengan kerugian yang dialami di dalam negeri.

“Oleh karena itu, kami mengenakan trade remedies berupa BMAD sesuai dengan ketentuan World Trade Organization (WTO),” imbuhnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, impor produk besi dan baja meningkat cukup signifikan sekitar 23,34% dari US$450,6 juta pada periode Januari–Februari 2017 menjadi US$569,3 juta pada periode yang sama 2018. (Rayful Mudassir)

Editor : Gajah Kusumo

(Sumber : Bisnis.com)