• Thu, 26 April 2018
15 Mar
Industri Semen: Sumatra & Kalimantan Topang Pertumbuhan

Rabu, 14/03/2018




JAKARTA — Konsumsi semen di dalam negeri pada Februari 2018 mencapai 4,79 juta ton, naik tipis 5,2% jika dibandingkan dengan permintaan pada bulan yang sama tahun lalu. Sumatra dan Kalimantan menjadi penggerak penggunaan semen.

 

Widodo Santoso, Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI), mengatakan untuk wilayah Sumatra, permintaan semen meningkat signifikan terutama di Sumatra Selatan, Lampung, Aceh, Kepulauan Riau, Jambi, dan Bangka Belitung dengan kenaikan rata-rata di atas 20% secara tahunan. Namun, peningkatan permintaan semen tidak terjadi di Sumatra Barat dan Bengkulu yang justru mencatatkan penurunan.

 

Untuk permintaan di Kalimantan, Widodo menilai peningkatan terlihat menggembirakan karena tumbuh sebesar 16,4% setelah pada tahun lalu terpuruk karena harga batu bara yang jatuh. 

 

"Saat ini sudah mulai proyek jalan tol Samarinda-Balikpapan dan proyek strategis power plant dan pelabuhan. Di Kalsel dan Kaltara, permintaan naik di atas 50%," ujarnya, Selasa (13/3).

 

Permintaan di wilayah Jawa ditopang oleh Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Banten dengan kenaikan rata-rata sebesar 10%, sedangkan konsumsi semen di Jawa Timur dan Jawa Barat tercatat stagnan. Untuk wilayah Sulawesi, Widodo menyebutkan ada sedikit kenaikan sebesar 3,2% setelah tahun lalu mengalami penurunan.

 

"Daerah Bali dan Nusa Tenggara menurun dratis hampir 7%, sedangkan Maluku dan Papua cukup mengembirakan dengan kenaikan 9,3%," katanya.

 

Sementara itu, ekspor clinker dan semen tercatat sebesar 167.000 ton atau naik 94%. Secara kumulatif, total konsumsi semen pada Januari—Februari 2018 sebesar 10,48 juta ton atau naik 7,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

 

"Kendati kenaikan cukup lumayan, tetapi kondisi total stok semen dan clinker cukup besar saat ini, sekitar 4 juta ton. Produsen semen tetap mengharapkan pembangunan infrastruktur, proyek sejuta rumah, serta dana pedesaan segera bisa dimulai pada April," ujarnya.

 

Permintaan semen pada Maret diperkirakan belum meningkat tajam karena musim hujan masih

berlangsung dan proyek infrastruktur banyak yang belum mulai. Permintaan baru akan bergerak naik mulai April atau Mei tahun ini. 

 

Musim Hujan

 

Kendati secara tahunan meningkat, konsumsi semen nasional pada bulan lalu turun 15,7% jika dibandingkan dengan Januari. Musim hujan dan hari kerja yang pendek menjadi faktor pendorong penurunan tersebut.

 

Widodo mengatakan penurunan secara bulanan dikarenakan hujan dan libur Imlek serta hari kerja yang hanya 28 hari. 

 

Sementara itu, Rahmad Pribadi, Direktur Utama PT Semen Baturaja Tbk., menuturkan kondisi penjualan semen perseroan pada Februari 2018 tidak berbeda dengan laporan asosiasi semen. 

 

"Penjualan pada Februari 2018 memang turun dibandingkan Januari, tetapi secara tahunan masih lebih tinggi," katanya.

 

Rahmad memperkirakan pertumbuhan konsumsi semen sepanjang tahun ini berada di kisaran 7% y-o-y. Pada  2017, perseroan berhasil membukukan pendapatan senilai Rp1,55 triliun, atau tumbuh 1,9% dibandingkan dengan 2016 senilai Rp1,52 triliun.

 

Peningkatan pendapatan tersebut ditopang oleh kenaikan penjualan semen. Secara keseluruhan, penjualan semen emiten dengan kode saham SMBR mencapai 1,76 juta ton, meningkat 8%

 

(Sumber: Bisnis)