• Sat, 22 September 2018
13 Mar
Krakatau Steel (KRAS) Klaim Siap Hadapi Serbuan Baja Impor

11 Maret 2018 19:29 WIB

Oleh : M. Nurhadi Pratomo

Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk. Mas Wigrantoro Roes Setiyadi (tengah), bertukar naskah dengan Board Director Sango Corporation Hashiguchi Tomoya, disaksikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat penandatanganan kerja sama di Jakarta, Jumat (15/12). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com,JAKARTA — PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. akan menjalankan berbagai strategi untuk menjaga agar baja yang dihasilkan tetap kompetitif di tengah ancaman serbuan baja impor asal China.

Direktur Utama Krakatau Steel Mas Wigrantoro Roes Setiyadi menjelaskan bahwa impor baja sejatinya masih diperlukan oleh industri domestik. Namun, hal tersebut harus dipastikan jangan sampai mematikan industri di dalam negeri.

Mas menilai rencana pemerintah yang ingin menerapkan bea masuk antidumping (BMAD) untuk baja dan alumunium justru akan membuat industri hulu dan hilir saling bermusuhan. Apalagi, penerapan regulasi yang tidak tepat justru memicu perang dagang yang lebih berkepanjangan.

Oleh karena itu, pihaknya menyarankan agar pemerintah meningkatkan pengawasan di lapangan. Apalagi, saat ini telah diterapkan skema pengawasan post border atau setelah melalui kawasan kapabeanan.

Di sisi lain, dia menyatakan emiten berkode saham KRAS itu tidak khawatir dengan potensi membanjirnya impor baja asal China.

“Kami akan berupaya dengan berbagai cara agar produk kami lebih kompetitif dibandingkan dengan produk impor,” ujarnya kepada Bisnis.com akhir pekan lalu.

Corporate Secretary Krakatau Steel Suriadi Arif sebelumnya menjelaskan bahwa perseroan berencana meningkatkan volume penjualan menjadi 2,8 juta ton pada 2018. Target tersebut naik 40% dibandingkan dengan target yang dipasang pada tahun lalu.

Dia memproyeksikan kebutuhan baja domestik mengalami pertumbuhan 1 juta ton tiap tahunnya. Pada 2016, total permintaan dari dalam negeri sebanyak 12,7 juta ton.

Di sisi lain, Suriadi mengatakan kenaikan harga baja juga bakal memperbaiki kinerja keuangan secara berangsur. Pasalnya, harga komoditas itu mulai mengalami kenaikan sejak Desember 2015 hingga Desember 2017.

Harga baja, sambungnya, naik 260% dari US$216 per metrik ton (/mt) pada 2016 menjadi US$562/mt. Kondisi itu membalikan tren yang terjadi pada 2011-2015.

Kendati demikian, pihaknya menilai tekanan terhadap harga pokok produksi masih terpengaruh tingginya biaya energi gas dan listrik. Dengan demikian, emiten berkode saham KRAS itu bakal menjalankan pabrik penghasil semi finished product dikombinasikan dengan pola pengadaan bahan baku semi finished produk impor yang kompetitif.

KRAS tahun ini membidik keuntungan US$24 juta. Pencapaian tersebut sejalan dengan pencapaian perseroan mengurangi kerugian dari US$171,69 juta pada 2016 menjadi US$87,96 juta pada 2017.

Seperti diketahui, kekhawatiran membanjirnya baja asal China di Indonesia muncul setelah Amerika Serikat menerapkan bea masuk untuk baja sebesar 25%. Kondisi itu diprediksi bakal memicu eksportir komoditas itu mengalihkan pasar ekspor ke negara lain.

Saat ini, China menjadi produsen baja terbesar di dunia. Total produksi Negeri Panda mencapai 831,7 juta metrik ton per tahun.

Editor : Riendy Astria

(Sumber : Bisnis.com)