• Tue, 19 June 2018
09 Mar
BMAD BAJA & ALUMUNIUM: Kemendag Surati Kemenperin

Rayful Mudassir Kamis, 08/03/2018 02:00 WIB

Baja.

JAKARTA— Kementerian Perdagangan telah melayangkan surat ke Kementerian Perindustrian terkait rencana pengenaan bea masuk antidumping impor produk baja dan alumunium.

Langkah tersebut dilakukan untuk menangkal kemungkinan membanjirkan impor dua komoditas tersebut ke dalam negeri, setelah Amerika Serikat (AS) menetapkan bea masuk sebesar 25% untuk baja dan 10% untuk alumunium.

“Sudah kami kirim surat ke Kemenperin,” kata Enggar di Gedung Kemenko Perekonomian, Rabu (7/3).

Kemendag telah mengirimkan surat resmi kepada Kemenperin untuk merumuskan sekaligus merekomendasikan aturan bea masuk antidumping (BMAD) dua komoditas tersebut.

“Menteri Perindustrian yang akan menentukan yang antidumping. Ini sedang diproses,” kata Enggar.

Sementara itu terkait kebijakan AS untuk impor produk baja dan alumunium, Enggar mengatakan keputusan itu akan membuat negara eksportir baja mencari pasar baru. Salah satu yang dikhawatirkan Enggar adalah membanjirnya produk baja dan alumunium dari China ke Indonesia. Apalagi, negara tersebut merupakan produsen terbesar baja di dunia dengan jumlah produksi mencapai 831,7 juta metrik ton.

Mendag mengatakan pemerintah mesti mengambil sikap hati-hati untuk mencegah kemungkinan berlipatgandanya pasokan baja dan alumiun dari negara lain, terutama China.

Kemendag juga akan melakukan kerja sama dengan Bea Cukai untuk memperketat proses pemeriksaan masuknya produk impor dua komoditas itu.

Meski begitu, rencana pengenaan BMAD memicu pro-kontra dari sejumlah pelaku industri.

“Kalau saya kenakan bea masuk , industri hilir protes. Kalau tidak dilakukan bea masuk, maka industri hulu yang protes,” kata Enggar

Dia mengemukakan pembahasan terkait rencana pengenaan BMAD pada impor baja dan alumunium juga sudah dilakukan di tingkat eselon satu di sejumlah kementerian terkait. Badan Kebijakan Fiskal (BKF) juga akan membantu merusmuskan kebijakan terkait BMAD.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangann (BP3) Kemendag Kasan Muhri mengatakan kebijakan AS tidak terlalu banyak berpengaruh terhadap produk baja, karena komoditas itu telah dikenakan BMAD sejak beberapa tahun terakhir. Namun dampaknya lebih dialami produk alumunium.

“Bea masuk aluminium oleh AS kemungkinan sedikit memengaruhi ekspor aluminium Indonesia karena nilai ekspornya di tahun 2017 cukup signifikan yaitu mencapai US$210 juta,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Perdagangan Benny Soetrisno mengatakan kebijakan AS terhadap pengenaan bea impor akan memicu perang dagang. Negara eksportir juga berpotensi mengikuti kebijakan serupa saat menerima produk asal AS.

“Produsen baja pasti mau dibuang ke mana . Kan Indonesia sedang industrialisasi juga. Jangan lupa, Indonesia juga sedang diserang baja dari China, loh,” kata Benny. (Rayful MUdassir)

Editor : Linda Teti Silitonga

(Sumber : Bisnis.com)