• Sat, 22 September 2018
06 Mar
China Pangkas Ekspor Baja, Permintaan ke Krakatau Steel Melonjak

04 Maret 2018 20:58 WIB

Oleh : Annisa Sulistyo Rini

Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk. Mas Wigrantoro Roes Setiyadi (tengah), bertukar naskah dengan Board Director Sango Corporation Hashiguchi Tomoya, disaksikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat penandatanganan kerja sama di Jakarta, Jumat (15/12). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA—PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. mengalami peningkatan permintaan baja seiring dengan pengurangan alokasi ekspor dari China. 

Direktur Pemasaran Krakatau Steel Purwono Widodo mengatakan pada awal tahun ini permintaan produk baja, seperti hot rolled coil (HRC) meningkat sekitar 30%. Konsumen dalam negeri menaikkan permintaan kepada produsen lokal karena impor dari China sulit diperoleh. 

Hal tersebut disebabkan pemerintah China memangkas alokasi ekspor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri seiring dengan perbaikan ekonomi dan penutupan pabrik baja yang tidak ramah lingkungan.

"Permintaan kami naik. Biasanya per bulan HRC itu sekitar 100.000 ton, sekarang 130.000 ton. Kami sekarang mengutamakan pasokan  ke proyek strategis," katanya di Jakarta akhir pekan lalu.

Kondisi pasar saat ini dinilai sangat menggembirakan produsen baja di kawasan Asia Tenggara karena menjadi momentum peningkatan utilitas pabrik. Selain itu, harga baja juga sedang berada di titik normal menuju tinggi yang dipicu oleh kondisi di China dan harga baja di Amerika Serikat yang tinggi.

Dia menyebutkan harga baja sudah kembali ke normal, di atas US$600 per ton dan menuju US$700 per ton. Sebelumnya, harga HRC per ton sempat di bawah US$400.

"Harga baja saat ini dari sudut pandang produsen baja sangat menolong karena berada pada tingkat normal, sehingga dapat menutup biaya, paling tidak biaya operasi," jelasnya. 
Perseroan pun meyakini tahun ini akan ditutup dengan raihan untung. Menurut laporan keuangan yang belum diaudit, emiten berkode saham KRAS tersebut membukukan kerugian senilai Rp1,17 triliun atau setara US$87,96 juta dengan asumsi US$1 senilai Rp13.300 sepanjang tahun lalu. Nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan rugi pada 2016 senilai US$171,69 juta.

Kendati demikian, produsen baja dalam negeri juga mewaspadai potensi peningkatan impor baja China menyusul kebijakan pemerintah AS yang menetapkan tarif impor baja sebesar 25%. Purwono menyatakan China dipastikan akan memindahkan alokasi ekspor ke AS ke negara lain dengan adanya kebijakan tersebut.

“Pasti nanti masuknya lewat baja paduan karena untuk carbon steel kan masih kena bea masuk anti dumping. Mereka akan menggunakan pelarian HS,” katanya.

Editor : Ratna Ariyanti

(Sumber : Bisnis.com)