• Sun, 27 May 2018
13 Feb
Patok Pertumbuhan 10%, Pabrikan Makanan & Minuman Tuntut Kepastian Bahan Baku

Selasa, 06/02/18

Pekerja menyusun aneka jenis minuman kaleng di salah satu grosir penjual makanan dan minuman kemasan di Pekanbaru, Riau, Senin (12/6). - Antara/Rony Muharrman

Bisnis.com, JAKARTA—Ketersediaan bahan baku menjadi syarat utama bagi pabrikan makanan dan minuman. Jika kepastian pasokan bahan baku terganggu, proyeksi pertumbuhan industri sebesar lebih dari 10% pada tahun ini dapat meleset.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan ketergantungan bahan baku impor menjadi kendala utama yang dihadapi pabrikan dalam negeri.

“Dukungan ketersediaan bahan baku dan regulasi pemerintah sangat penting,” ujarnya.

Sektor makanan dan minuman diproyeksikan tumbuh lebih dari 10%. Menurutnya, faktor yang mendukung pertumbuhan industri ini antara lain penerbitan beberapa kebijakan deregulasi yang memudahkan pasokan bahan baku.

Selain itu, tahun ini juga merupakan tahun politik yang umumnya mendorong peredaran uang.  Hal tersebut diharapkan juga ikut mendongkrak konsumsi makanan dan minuman. Yang penting, lanjut Adhi, pemerintah perlu memastikan pesta demokrasi tersebut berlangsung aman dan damai.

Adhi juga menyebutkan para pelaku industri makanan dan minuman ingin mengubah bisnis model mereka untuk menjaga permintaan pasar.

Selama ini para pabrikan mengandalkan waktu-waktu tertentu untuk menggenjot penjualan, seperti hari raya Lebaran. “Akhir-akhir ini lebaran sudah tidak bisa diandalkan lagi, biasanya naik 20% hingga 30% dari rata-rata bulanan,” jelasnya di Jakarta, Senin (5/2/2018).

Oleh karena itu, para pengusaha tidak ingin terjebak pada musim-musim tertentu untuk meningkatkan penjualan, sehingga upaya optimal harus dilakukan sepanjang tahun. Adhi juga menyoroti masalah daya saing industri makanan dan minuman nasional.

Menurutnya, saat ini secara keseluruhan daya saing meningkat, namun tidak terlalu maksimal. Hal ini disebabkan sumber daya yang ada telah tersedia secara alami, seperti potensi pasar yang didorong oleh jumlah penduduk Indonesia.  

“Produktivitas juga masih rendah, harus ada perbaikan di sumber daya manusia. Ini fundamental,” kata Adhi.

(Sumber: Bisnis)