• Fri, 20 July 2018
12 Jan
PENGENDALIAN IMPOR KERAMIK : Pemerintah Diminta Terapkan Asas Kesetaraan

Kamis, 11/01/18

Pabrikan keramik berharap pemerintah melakukan intervesi dagang berupa kebijakan resiprokal terhadap produk keramik impor.

Ketua umum Asosiasi Aneka keramik Indonesia( ASAKI) Elisa sinaga menuturkan permintaan keramik pada pabrikan yang mulai meningkat pada triwulan IV awalnya membawa optimalisme bagi industri. Produsen memperkirakan pada 2018 ini momentum peningkatan permintaan dapat terjaga dan penjualan di proyeksi tumbuh hingga 10%.

“namun nayatanya begitu masuk awal tahun sampai pekan kedua januari ini, permintaan ke pabrik melambat,” kata elisa, Rabu (10/1).

Perlambatan ini disinyalir karena pemangkasan tarif impor produk keramik china. Awalnya produk keramik dari china dikenai bea masuk 20%, tetapi saat ini tinggal 5%. “ketika bea masuk 20% saja impordari china naik 22% setiap tahun, sekarang tinggal 5% produknya akan semakin banyak masuk ke pasar kita,” katanya.

Elisa mengatakan pihaknya tidak memiliki data pasti jumah keramik impor yang masuk. Namun, Asosiasimemperkirakan jumlahnya meningkat karena pasar dalam negeri china akan tertekan menjelang libur panjang untuk perayaan tahun baru imlek. Pabrikan di negara tersebut pun menari pasar diluar negeri.

“jika demand konstan, tetapi produk impor melonjak tentu produsen dalam negeri yang akan tertekan permintaannya,” katanya lebih lanjut.

Asosiasi mendorong pemerintah memberlakukan produk impor ini setara dengan perlakuan ketika indonesia melakukan ekspor. Produk keramik Indonesia yang dilepas ke pasar ekspor diwajibkan memenuhi aturan negara yang dituju. Fasilitas pabrik dan tata cara proses juga ditinjau dan wajib memenuhi syarat.

Sementara itu, produk impor hanya diperiksa ketika memasuki pelabuhan indonesia. Adapun standar pembuatan dan kualitas pabrik tidak melewati inspeksi. Selain meminta kesetaraan, elisa mengingatkan pemerintah juga sudah 3 tahun belum menepati janji untuk menyesuaikan harga gas untuk industri.

Dia mengatakan, pihaknya tidak memaksa pemerintah mematok harga gas pada level tertentu. Namun, pemerintah cukup membandingkan dengan harga di negara kawasan sehingga produk keramik Indonesia lebih kompetitif di pasar internasioanl.

“turun berapa pun harga gas itu sangat membantu kami, minimal kami dapat bertahan. Komponen gas menyumbang 30% dari biaya produksi,” katanya. Dia mengatakan kewajaran harga gas tidak hanya menjadi harapan industri keramik akan tetapi seluruh industri manufaktur di indonesia. Pabrikan meminta pemerintah merealiasikan janji yang disampaikan.

“sekarang kami menunggu pemerintah bisa tidak memenuhi janjinya,” katanya.

Meski belum menunjukan gejala peningkatan produksi, elisa mengharapkan sektor properti di dalam negeri dapat menjadi penggerak utama permintaan keramik. Beragam terobosan pemerintah untuk meningkatan permintaan hunian dapat menolong industri keramik tumbuh lebih baik pada 2018.

MENENGAH BAWAH

Sementara itu, pabrikan keramik PT Arwana citramulia Tbk. (ARNA) menyatakan akan semain memperkuat segmen menengah bawah guna mengejar target penjualan 2018. Chief financial officer arwana Citramulia rudy sujantomenyatakan perusahaan menincar penjualan Rp1,9 triliun hingga Rp 2 triliun pada tahun ini. Target melampaui proyeksi pendapatan pada 2017.

Total penjualan bersih ini diyakini dapat terealisasi seiring rencana perusahaan menambah kapasitas produksi dari 57 juta meterpersegi menjadi 65 juta meter persegi pada tahun ini. Peningkatan  produksi ini setara 14% dari kapasitas terpasang.

“Kapasitas terpasang 57 juta meter perseg. Utilitaw hampir 100%. Arwana akan menambah kapasitas dari 57 juta ke 65 juta meter persegi tahun ini, “ kata rudy, Rabu (10/01).

Kapasitas produksi ini berasal dari lima pabrik yang terletak di serang, Tanggerang, Gresik, Ogan Ilir dan pabrik kelima atau pabrik terbaru perusahaan, mojokerto.

Pabrik di mojokerto merupakan fasilitas terbaru milim arwana dan diresmikan pada 2017. Fasilitas ini mengincar pasar jawa bagian timur dan Indonesia bagian timur.

(Sumber: KoranBisnisIndonesia)