• Fri, 19 January 2018
12 Jan
ATURAN TKDN TERUS DIGODOK

 Rabu, 10/01/18

Kementerian Perindustrian tengah menggodok aturan tingkat kandungan dalam negeri guna mendorong pertumbuhan industri farmasi sesuai Inpres Nomor 2 Tahun 2016 tentang Percepatan Industri Kesehatan.

Direktur industri kimia hilir kemenperin Taufik Bawazier mengatakan pemerintah berharap aturan ini akan mendongkrak investasi di industri menjadi sekitar Rp6 triliun pada tahun ini. Industri farmasi dalam negeri hingga saat ini masih menghadapi masalah klasik, yaitu ketergantungan bahan baku impor uyang masih tinggi. Menurut taufik, industri hulu untuk farmasi sangat menentukan daya saing.

Kementrian Perindustrian optimistis industri farmasi dalam negeri dapat tumbuh melebihi pertumbuhan sepanjang tahun lalu. Sepanjang tahun lalu, pada kuartal 1 industri farmasi tumbuh 7,8% denagn kontribusi ke produk domestik bruto (PDB) mencapai Rp45 triliun.

Pada kuartal 2 , industri farmasi tumbuh 7,3% dengan kontribusi terhadap PDB senilai Rp46 triliun, tetpi pada kuartal ketiga industri ini mengalamiperlambatan sebesar 3,28% dengan nilai kontribusi terhadap PDB yang tetap di angka RP46 triliun.

Untuk kuartal akhir 2017, kemenperin meyakini industri farmasi tumbuh 6% hingga 7% dengan kontribusiterhadap PDB sekitar Rp47 triliun. Dengan demikian, pertumbuhan secara kumulatif pada 2017 diproyeksikan sebesar 6%dengankontribusi terhadap PDB diatas Rp180 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan kontribusi PDB pada 2016 senilai Rp173 triliun.

“untuk 2018, industri farmasi akan tumbuh sekitar 6,46%,” ujar Taufiek, selasa (9/1).

Menteri perindustrian Airlangga Hartanto sebelumnya menuturkan kemenperin tengah memprioritaskan pedalaman struktur industri farmasi nasional, terutama di sektor hulu atau produsen penyedia bahan baku farmasi. Upaya strategis bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

“pemerintah telah menyediakan beberapa insentif fiskal seperti tax allowance dan tax holidday,” katanya.

 

SEKTOR ANDALAN

Kemenperin mencatat, industri farmasi indonesia mampu menyediakan 70% dari kebutuhan obat dalam negeri, sedangkan nilai pasar produk farmasi dalam negeri kw asean mencapai US$4,7 milliar. Atau setara dengan 275 dari total pasar farmasi di kawasan Asi tenggara.

Industri farmasi menjadi salah satu subsektor yang menjadi andalan untuk memacu pertumbuhan industri manufaktur nasional di tahun ini, selain industri baja dan otomotif, industri elektronika, industri kimia, dan industri makanan dan minuman, sektor-sektor tersebut diharapkan mampu mencapai target pertumbuhan industri pengolahan nonmigas 2018 yang telah ditetapkan sebesar 5,67%.

Pabrikan farmasi harus memperbesar volume penjualan untuk mempertahankan nilai keuntungan di tengah pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Pre Agusta Siswantoro, Direktur Manufacturing PT Kalbe Farma Tbk., mengatakan industri farmasi, khususnya obat ethical, masih diwarnai dengan pelaksanaan JKN. Dengan program ini, dia memperkirakan pertumbuhan bisnis farmasi domestik secara nilai hanya tumbuh satu digit, sedangkan secara volume akan tumbuh dua digit.

“Efek JKN membuat tren harga akan terus turun, tetapi pemakaian meningkat. Untuk mempertahankan nilai keuntungan yang sama, perusahaan harus menjual lebih banyak unit dan diperlukan kapasitas produksi yang cukup,” ujarnya, Selasa (9/1/2018).

Untuk menambah kapasitas produksi dan memperbanyak produk yang dijual, Kalbe Farma mulai membangun pabrik baru pada tahun lalu dan juga menambah mesin. Pre Agusta menyebutkan perusahaan meningkatkan produksi untuk injeksi ampul, infus bag, dan tablet.

“Tahun ini selesai pembangunan pabriknya dan mungkin akhir tahun ini bisa mulai produksi,” katanya.

Pada tahun lalu, emiten dengan kode saham KLBF tersebut menganggarkan belanja modal senilai Rp1,2 triliun untuk membangun tiga pabrik di Pulogadung, Cikarang, dan Cikampek. Ketiga pabrik yang dibangun tersebut terdiri dari pabrik resep untuk injeksi yang berada di Pulogadung dan dua pabrik konsumer yang terdapat di Cikarang dan Cikampek.

(Sumber: KoranBisnisIndonseia)