• Wed, 24 October 2018
09 Jan
Perbaikan Harga Bakal Berlanjut

Ø  Industri Baja

Jumat, 05/01/2018

JAKARTA – produsen baja domestik meyakini perbaikan harga baja dan peningkatan utilisasi masih berlanjut pada tahun ini.

Direktur Pemasaratan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Purwono Widodo mengatakan bahwa seiring dengan pengurangan alokasi ekspor Baja China, imporbaja paduan murah dari negara tersebut yang memanfaatkan bea masuk 0% menurun.

Pengurangan alokasi ekspor tersebut dikarenakan China lebih mementingkan kebutuhan domestik. Kondisi tersebut mendorong harga baja duina pada semester II/2017 naik signifikan atau lebih dari 50%.

Situasi ini membuat produsen baja nasional termasuk krakatau steel dapat menikmati perbaikan harga yang wajar dan tingkat utilisasi mulai terkerek pada paruh kedua tahun lalu.

“kondisi ini kami yakini masih berlanjut pada kuartal pertama 2018,” ujarnya kepada bisnis, rabu (3/1). Saat ini , tingkat utilisasi KRAS disebutkan berada di kisaran 70%.

Purwono menuturkan bahwa seharusnya utilisasi perseroan bisa lebih tinggi dari 70%, tetapi dikarenakan ada program perbaikan (overhaul) yang besar, maka tingkat utilisasi tidak dapat meingkat secara optimal.

Jika merujuk pada data yang dirilis oleh Asosiasi Baja dunia, terlihat bahwa produksi baja china hingga november 2017 sebesar 764,80 juta ton, sedangkan produksi sepanjang 2016 sebesar 808,36 juta ton.

SVP head of Marketing KRAS Bimakarsa wijaya menuturkan bahwa produksi baja china hingga akhir tahun lalu diproyeksi melambat dan harga baja akan terus meningkat hingga mencapai kisaran US$700 per ton pada maret 2018, kemudian perlahan turun hingga level US$570 pada akhir tahun ini.

“kami mendapatkan dampak kenaikan harga, produsen domestik mendapatkan kesempatan untuk meraih profit,” katanya. Bima mengatakan bahwa permintaan baja domestik sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi nasional.

Situsai politik pada tahun ini diharapkan tidak terlalu berpengaruh pada permintaan baja dan serapam untuk proyek infrastruktur dapat optimal. Lebih lanjut, dia memperkirakan apabila ekonomi  dalam negeri tumbuh sekitar 5%, permintaan baja dapat tumbuh  6%-7%.

Produk domestik yang banyak mengalami kenaikan produksi dengan peningkatan harga baja dan  produksi china yang melambat adalah jenis long product, seperti baja tulangan dan baja siku.

Direktur eksekutif asosiasi industri besi dan baja Indonesia hidayat Tri Seputro mengatakn bahwa pabrikan baja nasional berharap agar komitmenChina untuk mengurangi produksi baja hingga 2020 benar-benar  direalisasikan karena akan meningkatkan utilisasi pabrikan baja Indonesia dan harga baja Dunia juga berada dalam level yang seharusnya.

“ini jadi momentum bagi produsen baja tanah air untuk meningkatkan kapasitas produksi,” katanya. Kendati demikian, belum seluruh industri baja domestik meikmati perbaikan bisnisdengan berkurangnya impor baja.

 

(Sumber: KoranBisnisIndonesia)