• Tue, 12 December 2017
07 Dec
SEKTOR MAKANAN DAN MINUMAN PMDN Tetap Dominan

Annisa Sulistyo Rini & N. Nuriman Jayabuana

Rabu, 06/12/2017 02:00 WIB

Petugas Balai Besar Obat dan Makanan (BPOM) dan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, memeriksa mi Instan di salah satu pusat perbelanjaan, di Padang, Sumatra Barat, Senin (19/6).

JAKARTA—Pengusaha lokal masih mendominasi penanaman modal di sektor industri makanan dan minuman. Kendati demikian, potensi pasar dalam negeri diyakini dapat menarik investasi asing lebih kencang lagi.

Merujuk data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi di industri makanan sepanjang tahun ini hingga September senilai Rp47,56 triliun yang terdiri dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp27,9 triliun dan penanaman modal asing (PMA) senilai Rp19,66 triliun.

Dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, dominasi kontribusi tidak berbeda, yang mana PMDN di sektor makanan senilai Rp24 triliun, atau lebih tinggi dibandingkan dengan PMA yang hanya Rp22,3 triliun.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar menyatakan dominasi penanaman modal dalam negeri ini salah satunya disebabkan kuatnya pabrikan lokal untuk beberapa komoditas, seperti mi instan dan produk berbasis kelapa sawit.

Perusahaan nasional juga gencar melakukan perluasan bisnis karena permintaan pasar yang masih bertumbuh baik.

“Makanan dan minuman ini kan kebutuhan utama, sehingga pasarnya masih oke dan permintaan ekspor juga meningkat sehingga produsen seperti Indofood, Mayora, dan Garudafood berekspansi bisnis,” katanya saat dihubungi Bisnis, Selasa (4/12/2017).

Adapun perusahaan asing yang menanamkan modal di Indonesia biasanya pemain besar yang membuka lini produksi di Indonesia sebagai global value chain, sehingga tidak semua fasilitas pengolahan berada di sini. “Ini indikasi mengapa PMA tidak sebesar PMDN,” ujarnya.

Haris menilai dengan potensi pasar yang masih baik, investor asing tertarik untuk masuk Indonesia atau memperluas bisnisnya. Dia mencontohkan Coca Cola Amatil yang menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dan berkomitmen menginvestasikan US$300 juta untuk 3 tahun ke depan.

Kemenperin mendukung investor asing yang membangun atau memperluas pabrik makanan dan minuman karena menambah penyerapan tenaga kerja dan menyumbang penerimaan pajak bagi negara.

Dia menilai pengusaha sektor makanan dan minuman masih optimistis dengan bisnis dalam negeri sehingga tidak menahan ekspansi bisnis mereka. Bahkan, realisasi investasi di sektor ini bisa tumbuh lebih kencang apabila masalah yang dihadapi dapat teratasi, misalnya ketersediaan bahan baku.

LEBIH UNGGUL

Adhi S. Lukman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPPMI), menilai dominasi pengusaha nasional di sektor makanan bisa saja tergeser oleh investor asing karena banyak yang tertarik masuk Indonesia.

Namun, sejauh ini investor asal luar negeri juga menghadapi tantangan pasar tidak ringan sehingga banyak yang belum berhasil dan perlu menyesuaikan selera lokal. “Produsen nasional juga lebih unggul karena asing kurang fleksibel mengantisipasi kondisi lokal,” katanya.

Industri makanan dan minuman masih menjadi penopang utama pertumbuhan manufaktur pada kuartal III/2017. Industri ini tercatat bertumbuh 9,46% atau melaju lebih kencang dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya 7,19%.

Badan Pusat Statistik mencatat industri makanan dan minuman berkontribusi 34,95% terhadap produk domestik bruto (PDB) industri nonmigas. Kontribusi ini lebih tinggi dibandingkan sektor lain, seperti eletronik yang 10,46% dan alat angkutan sebesar 10,11%.

Industri manufaktur tampak menggeliar di kuartal akhir 2017. Penguatan permintaan menjelang tutup tahun mendorong pabrikan meningkatkan produksi. Seperti dirilis Nikkei, Purchasing Manager’s Index Manufaktur Indonesia berada pada level 50,4 pada November lalu, lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya pada level 50,1.

Indek di atas angka 50 menunjukkan ekspansi manufaktur, adapun di bawah angka 50 menandakan gejala kontraksi. “Penguatan tersebut terutama terlihat dari kenaikan output dan permintaan baru, meskpun laju kenaikannya belum begitu tinggi,” ujar Ekonom IHS Markit, Aashna Dodhia, Senin (4/12).

Menurutnya, pabrikan umumnya menghadapi kenaikan permintaan berasal dari pasar domestik dan ekspor. Hanya saja, perusahaan manufaktur mulai mengurangi aktivitas pembelian bahan baku dan lebih mengoptimalkan cadangan stok.

Di samping itu, industri tengah menghadapi lonjakan biaya karena kenaikan harga bahan baku. Namun, pabrikan tak serta merta mengalihkan kenaikan beban biaya produksi tersebut dengan meningkatkan harga. Sebab konsumen pabrikan pada umumnya cenderung sensitif terhadap kenaikan harga.

Adhi S. Lukman menyatakan permintaan terhadap produk makanan minuman mulai meningkat jelang tutup tahun. “Penjualan mulai pertengahan November mulai terangkat, tapi kalau dilihat kenaikannya, seperti belum peak season. Semoga pada Desember meningkat lebih tajam.”

Adhi berharap kenaikan permintaan pada ujung tahun tersebut mampu mengompensasi lesunnya permintaan pada pertengahan tahun tatkala Ramadan dan Lebaran. “Kalau saya memilih realistis saja, permintaan sepanjang tahun ini sepertinya tidak sekuat tahun lalu,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah perlu menjamin kemudahan akses terhadap bahan baku industri. Sebab pabrikan makanan minuman begitu bergantung terhadap pasokan bahan baku impor.

(sumber: Bisnis)