• Tue, 12 December 2017
06 Dec
KOMODITAS LOGAM : Data China Menguat, Baja Memantul

Eva Rianti

Senin, 04/12/2017 02:00 WIB

Industri baja

JAKARTA – Menguatnya data manufaktur China dan kesepakatan negara-negara anggota G20 untuk mengatasi kelebihan kapasitas baja di pasar global menjadi faktor yang menopang harga ke level di atas US$600 per ton.


Pada penutupan perdagangan Jumat (1/12), harga baja di bursa Shanghai turun tipis 1,19 poin atau 0,20% ke level US$603,95 per ton.


Sementara itu, harga baja hot rolled sheet menguat 28 poin atau 0,70% menjadi US$605,16 per ton. Sepanjang 2017, harga baja tumbuh hingga 47,29%.


Negara-negara anggota G20 menggelar Global Forum on Steel Excess Capacity di Berlin, Jerman pada Kamis (30/11). Dalam pertemuan tersebut, perwakilan negara-negara G20 menyepakati sejumlah langkah untuk mengatasi kelebihan kapasitas baja di pasar global.


Langkah tersebut, yakni membongkar subsidi yang mendistorsi pasar, merestrukturisasi sektor industri baja, memastikan level of playing field yang setara, serta meningkatkan transparansi pemangkasan kapasitas.


Seusai pertemuan tersebut, harga baja di bursa Shanghai menguat 15,34 poin atau 2,6% ke level US$605,14 per ton setelah bertahan di level harga US$600 per ton sejak 7 September 2017.


Dalam Global Forum on Steel Excess Capacity itu, China dan Amerika Serikat masih berselisih terkait cara mengatasi kelebihan kapasitas baja di pasar global. Negeri Paman Sam menilai kesepakatan tersebut merupakan awal dan belum menghasilkan kemajuan berarti.


“Untuk mengatasi kelebihan kapasitas perlu langkah kebijakan yang konkret dengan menghapus subsidi. Produsen baja swasta dan BUMN harus diperlakukan setara,” kata Kepala Negosiator Baja AS Jamieson Greer.


Asisten Menteri Perdagangan Li Chenggang mengatakan bahwa China tidak ingin menjadi pihak yang melalui “proses yang menyakitkan” dalam pemangkasan kapasitas produksi baja. Saat ini, China telah melakukan reformasi tambang yang cukup besar.


Pada periode 2015—2020, China menargetkan akan memangkas kelebihan kapasitas baja sebesar 150 juta ton.


“Pengurangan kapasitas baja adalah proses yang menyakitkan, kami harus merelokasi ratusan ribu pekerja. Kami mengimbau produsen di dunia bekerja sama dan mengambil langkah efektif untuk mengurangi kapasitas,” kata Chenggang.


Para ahli mengungkapkan saat ini ada sekitar 730 juta ton cadangan baja global dan setengahnya berada di China. Kondisi itu masih jauh dari kondisi pasar baja yang sehat dengan produksi 1,6 miliar ton per tahun dan cadangan maksimal sebesar 400 juta ton.


Saat ini, industri baja global memiliki nilai sekitar US$900 miliar per tahun. Dinamika industri logam ini turut mencerminkan ukuran kesehatan ekonomi dunia.


Menanggapi kesepakatan dalam forum global tersebut, Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa hasil dari forum global tersebut hanya memberi tekanan pada harga baja di pasar fisik. Sementara itu, para investor telah melakukan hedging (lindung nilai) di pasar derivatif yang saat ini masih terbilang positif.


Ibrahim menuturkan, terdapat tiga sentimen yang berpengaruh terhadap penguatan harga baja.


Pertama, harga bahan bakar batu bara yang tinggi akan mempengaruhi harga baja karena batu hitam merupakan bahan bakar dari baja. Tercatat, harga batu bara global saat ini telah mencapai kenaikan harga hingga mencapai level US$90 per ton.


Kedua, data indeks manajer pembelian/ Purchasing Manager’s Index (PMI) China bernilai positif. Berdasarkan Biro Statistik Nasional/ National Burreau of Statistics/ NBS), data PMI sektor manufaktur China pada November 2017 mencapai 51,8, naik dari bulan sebelumnya sebesar 51,6. Angka PMI ini lebih tinggi dari prediksi rata-rata para ekonom yang memproyeksikan angka 51,6.


Adapun angka PMI non-manufaktur naik sebesar 54,8 pada November 2017 dibandingkan dengan 54,3 pada bulan sebelumnya. Angka di atas level 50 merupakan angka yang menunjukkan pertumbuhan yang positif.


“Kalau data manufaktur bagus, industri pabrikan juga menguat. Harga baja yang naik pada pasar derivatif merupakan dampak dari data PMI China yang positif tersebut,” kata Ibrahim ketika dihubungi Bisnis, Minggu (3/12).


Dalam 2 bulan terakhir, Ibrahim menambahkan, China mengalami bencana berupa kebanjiran, gempa, dan kerusuhan sehingga membutuhkan pembangunan infrastuktur yang menyerap konsumsi baja semakin banyak. Oleh sebab itu, harga baja di pasar China mengalami kenaikan.


Ketiga, sentimen datang dari Amerika Serikat dimana Presiden AS Donald Trump kemungkinan besar akan melakukan program-program infrastruktur pembangunan, sehingga membutuhkan baja yang cukup banyak.


Sementara itu, berbicara tentang kondisi panasnya AS dan China terkait perselisihan di antara keduanya dalam forum global, China tetap memiliki kekuatan yang besar dalam mempengaruhi pasar.


“Forum itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap penguatan harga baja karena ada kecondongan pelaku pasar tentang fundamental murni dari China. Hingga akhir tahun harga diproyeksi US$590 per ton karena asumsi kenaikan suku bunga The Fed,” imbuhnya.


World Steel Association (WSA) mencatat produksi baja mentah dunia untuk 66 negara mencapai 145,3 juta ton pada Oktober 2017, meningkat 5,9% dari periode yang sama pada 2016.


Produksi baja mentah China untuk Oktober 2017 mencapai 72,4 juta ton, meningkat sebesar 6,1% dibandingkan dengan Oktober 2016. Sementara itu, AS menghasilkan 7 juta ton baja mentah, atau naik sebesar 12% secara tahunan. (Bloomberg/ Reuters)


Editor : Ana Noviani

 

(Sumber : BisnisIndonesia)