• Tue, 12 December 2017
06 Dec
INDUSTRI BAJA : Pabrikan Asing Bersiap Investasi di Indonesia

N. Nuriman Jayabuana Senin, 04/12/2017 02:00 WIB

Plat Baja

JAKARTA — Asosiasi baja memperkirakan peningkatan konsumsi baja di dalam negeri pada tahun depan akan mendorong produsen baja asing menanamkan modal mereka di Indonesia.


Konsumsi baja nasional pada tahun depan diprediksi menembus angka 14,50 juta ton. Angka tersebut lebih tinggi 7% dibandingkan dengan eskpektasi permintaan tahun ini sebanyak 13,50 juta ton.


Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (The Indonesian Iron and Steel Industry Association/IISIA) Hidayat Triseputro menyatakan bahwa proyeksi positif tersebut mendorong pabrikan baja multinasional mulai menanamkan modal di Indonesia pada tahun depan.


“Pertumbuhan demand baja tahun depan itu minimal 7%. Dengan begitu, investor enggak takut, sudah ada beberapa dari luar yang menyatakan ingin masuk ke sini mulai tahun depan,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (3/12).


Menurutnya, beberapa pabrikan China berencana merelokasi fasilitas pengolahan baja mereka ke Indonesia. Hanya saja, pemerintah memperketat standar penggunaan teknologi untuk mencegah relokasi pabrikan skala kecil.


“Banyak sekali yang asal China berkeinginan masuk, tapi pemerintah sudah kita wanti-wanti agar investasi baru mesti hi-tech. Kalau sekadar pakai teknologi induction furnace, itu bisa dikatakan buangan dari negara mereka karena di sana saja sudah ditinggalkan,” ujarnya.


Hidayat menyatakan bahwa salah satu tantangan pengembangan industri baja di dalam negeri merupakan kekurangan kapasitas untuk memenuhi permintaan domestik. Kapasitas kapasitas terpasang industri baja di dalam negeri masih jauh berada di bawah angka permintaan.


“Dari total angka permintaan, kurang lebih sekitar 30% itu area non-accessible. Artinya memang belum bisa diproduksi di sini,”ujarnya.


Ketua Umum IISIA sekaligus Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) Mas Wigrantoro Roes Setiyadi memperkirakan pabrikan baja multinasional yang hendak berinvestasi di dalam negeri bakal menghadapi persoalan serupa dengan pabrikan domestik.


“Saya berani mengatakan begitu, keunggulan competitiveness yang mereka raih di negaranya untuk mengekspor ke Indonesia, bisa saja hilang ketika masuk ke sini,” ujarnya.


Menurutnya, titik efisiensi industri baja begitu bergantung pada jarak lokasi produksi dengan konsumen. Semakin dekat dengan pasar, maka pabrikan semakin memperoleh keunggulan daya saing yang lebih ketimbang kompetitor.


“Itulah mengapa investor pada bisnis baja berlomba lomba membangun fasilitas di dekat konsumen karena betul-betul mengupayakan efisiensi biaya logistik. Semakin dekat dengan pasar, semakin ekonomis. Krakatau Steel punya keunggulan lain karena punya pelabuhan sendiri,” ujarnya.


PROYEK KRAS

Krakatau Steel tengah merampungkan pembangunan fasilitas blast furnace dengan kapasitas 1,20 juta ton. Fasilitas tersebut mulai beroperasi pada tahun depan untuk memproduksi ton baja cair sebagai bahan baku pembuatan baja di Cilegon.


Pembangunan proyek tersebut merupakan strategi perseroan untuk meningkatkan efisiensi dengan membuat bahan baku alternatif. Sebagai gambaran, fasilitas tersebut diperkirakan mampu menghemat biaya produksi US$56-US$80 dari setiap ton baja yang diproduksi.


Selama ini, KRAS hanya memperoleh pasokan bahan baku slab dari Krakatau Posco dengan kapasitas 3 juta ton per tahun. Krakatau Posco merupakan usaha patungan perseroan dengan pabrikan baja asal Korea Selatan, Posco. Bahan baku slab tersebut kemudian diolah menjadi baja canai panas (hot rolled coil) dan produk pelat baja.


“Blast furnace nantinya kalau sudah berjalan akan memudahkan kami memperoleh profit,” ujarnya.


Asosiasi Industri Besi dan Baja Asean (South East Asia Iron and Steel Institute/SEAISI) menyoroti sejumlah faktor yang bakal memengaruhi peta persaingan industri baja di Asean dalam 5 tahun ke depan.


SEAISI melihat adanya tren keberlanjutan penurunan volume baja impor asal China ke pasar Asean mulai tahun depan. Perbaikan harga komoditas baja mendorong pabrikan baja China mengutamakan distribusi produknya ke pasar domestik.


Hingga kuartal ketiga tahun ini, ekspor baja China ke Asean anjlok 42% menjadi hanya sebanyak 16,35 juta ton. Laju penurunan tersebut bergerak lebih pesat ketimbang penurunan volume ekspor baja China ke seluruh dunia sebesar 30% menjadi sekitar 59,61 juta ton pada periode yang sama.


SEAISI juga memprediksi pabrikan baja India bakal meningkatkan volume ekspor ke Asean tatkala pangsa China menyusut di kawasan tersebut. Pabrikan baja India diperkirakan memenuhi sebagian besar pangsa permintaan baja di Asean dalam beberapa tahun ke depan.


Pada semester pertama tahun ini, volume ekspor baja India ke Asean naik sebesar 5%. Laju pertumbuhan ekspor baja tersebut diperkirakan mulai terakselerasi pada tahun depan mengingat pabrikan India mampu memasok berbagai kebutuhan baja seperti baja canai panas, billet, dan baja tulangan. (B)


Editor : Zufrizal

 

(Sumber : BisnisIndonesia)