• Tue, 21 November 2017
14 Nov
Mampu Pasok Bahan Baku, Indonesia Masih Bergantung pada Impor Mutiara

Jumat, 10/11/2017

 

Bisnis.com, JAKARTA - Teknik seleksi kualitas, pemrosesan, dan taksir harga, yang terbatas membuat Indonesia masih bergantung pada mutiara impor. Padahal, Indonesia memasok lebih dari 50% mutiara laut selatan (south sea pearls) dunia.


Wakil Sekjen Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) Nelia Suhaimi mengatakan toko-toko perhiasan di Indonesia membeli mutiara berkualitas dari Hong Kong atau Jepang.


Padahal, kedua pusat perdagangan mutiara terbesar di dunia itu memperoleh bahan baku dari Indonesia. Jepang misalnya, mengimpor 70% kebutuhan mutiara dari Indonesia. Mutiara tersebut diproses lebih lanjut untuk menambah kualitas.


Di pasar Indonesia, mutiara south sea pearls yang beredar kebanyakan belum diproses sehingga berkualitas rendah atau low grade. Akibatnya, Indonesia tidak dikenal sebagai produsen south sea pearls dunia.


"Grading kita itu belum pas dengan taksiran mereka [Jepang dan Hong Kong]. Misalnya begini, kita punya grader sendiri, belum diakui oleh mereka. Jadi, tetap saja mereka menaksir dengan harga rendah," kata Nelia, Rabu (8/11/2017).


Asbumi mengusulkan agar pemerintah mencontoh Jepang dan Tahiti yang mendukung perdagangan mutiara dengan membuat program jangka panjang, seperti promosi serta pelatihan processing, grading, dan pricing di Jepang atau Hong Kong.


"Perlu waktu lama untuk benar-benar menguasai teknik ini. Tanpa penguasaan, ketergantungan pada negara trader akan terus berlanjut," ungkap Nelia.

(Sumber: Bisnis)