• Tue, 21 November 2017
10 Nov
Impor Bahan Baku Masih Tinggi


Rabu, 08/11/2017

Impor bahan baku di industri alas kaki mencapai hampir 70%. Ketergantungan pabrikan ini mengurangi daya saing pabrikan lokal.


Binsar Marpaung, seketaris Jendral Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), mengatakan kemampuan industri nasional untuk memproduksi kulit dalam bentuk olahan atau mentah masih jauh dibawah total kebutuhan pabrikan sepatu.


“Daya saing industri sepatu belum dapat melampaui produsen dari negara – negara lain, seperti china , India, Brasil, bahkan vietnam,” kata binsar kepada bisnis, selasa (7/11).


Biaya impor ini membuat ongkos produksi yang dikeluarkan oleh industri nasional lebih tinggi dibandingkan dengan negara kompetitor yang sudah mampu memproduksi bahan baku.


Binsar menyebutkan biaya produksi sepatu per pasang di Indonesia bisa mencapai US$5,60 per pasang. Adapun biaya produksi sepatu per pasang di vietnam mencapai US$5,03 dan Kamboja US$4,84 per pasang.Pabrikan sepatu berharap investasi di sektor hulu seperti industri pengolahan kulit atau pusat penyedia kulit mentah dapat terus di kembangkan.


Peningkatan pasokan bahan baku di dalam negeri juga akan membantu kebutuhan industri alas kaki kelas kecil dan  menengah. Saat ini hanya industri berskala besar yang mampu mengimpor bahan baku, sedangkan kemampuan pabrikan kecil dan menengah masih terbatas.


Pertumbuhan investasi di sektor hulu dapat dipicu dengan pemberian insentrif. “seharusnya industri yang dapat memenuhi kebutuhan bahan baku bisa mendapatkan pembebasan pajak sekian tahun untuk memicu investasi,” imbuhnya.


Dihubungi secara terpisah, Achmad Sigit Dwiwahjono dirjen industri kimia, Tekstil,dan Aneka (IKTA) Kemenperin menyebutkan kemampuan produksi nasional untuk memenuhi kebutuhan industri alas kaki baru mencapai 30% dari jumlah kebutuhan saat ini yang mencapai 2,5 juta – 3 juta lembar kulit per tahun.


hasilnya, impor bahan baku menjadi salah satu cara agar kebutuhan bahan baku tetap terpenuhi oleh industri. Kendati demikian, Sigit menjelaskan untuk mengakomodasi kebutuhan bahan baku industri alas kaki maka pemerintah telah memberikan kemudahan dalam hal penghapusan karantina untuk impor kulit jadi dan setengah jadi dengan kemudahan tersebut pabrikan tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengambil bahan baku seperti yng terjadi pada beberapawaktu yang lalu

 

PASOKAN TERGANGGU

Sementara itu, kepala badan penelitian dan pengembangan industri (Bppi) kemenperin ngakan timurantara menyampaikan pasokan bahan baku di dalam negeri juga terganggu karena pabrikan sektor hulu banyak yang memilih pasar ekspor.


Harga jual di pasar luar negeri yang lebih baik jika dibandingkan denagn harga pasar domestik membuat pabrikan belum meprioritaskan kebutuhan dalam negeri. “kedepan kami akan bekerja sama dengan kementrian perdagangan untuk mengendalikan ekspor bahan baku untuk industri pengolahan kulit,” kata ngakan, selasa (7/11).


Menurutnya pengendalian ekpsor ini tidak bermaksud untuk mematikan bisnis di sektor hulu industri kulit. Pengawasan ini untuk untuk mngurangi minimnya pasokan bahan baku dengan kualitas yang terbaik. Pemberian insentif akan menjadi opsi untuk mambatasi ekspor bahan baku alas kaki.


“jika tidak bisa dalam bentuk insentif maka akan dikenakan bea kluar agar pabrikan lebih memilih untuk menjual kulit di pasar domestik,” ujarnya. Industri kulit, produk kulit, dan alas kaki menunjukan inerja yang positif.


Hingga menjelang akhir tahun 2017, investasi sektor ini telah mencapai Rp7,62 triliun atau naik empat kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu. Di sektor industri alas kaki, indonesia menduduki posisi kelima sebagai eksportir dunia setelah China, India, vietnam, dan brasil dengan pangsa pasar sebesar 4,44%.


Menurut ngakan, ada tiga faktor yang mendorong industri dapat maju, yakni investasi, teknologi, dan sumber daya manusia (SDM). “ketiga faktor itu harus saling melengkapi.” Ujarnya. Khusus faktor SDM, ngakan menegaskan perlunya peningkatan kompetensi untuk memenuhi kebutuhan dunia industri saat ini.


Pendidikan vokasi terus disiapkan guna menyiapkan tenaga kerja terampil. Kemenperin telah melaksanakan program pendidikan vokasi yang mengusung konsep link and match antara sekolah menengah kejuruan dengan industri. Program yang dimulai sejak februari 2017 ini. Telah diluncurkan empat tahap hingga Oktober.

 

(sumber: KoranBisnisIndonesia)