• Tue, 21 November 2017
10 Nov
Food Station jajaki impor bawang putih

Rabu, 08/11/2017


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Salah satu Badan Usaha Milih Daerah (BUMD) Jakarta, PT Food Station Tjipinang Jaya (FSTJ) tengah menjajaki importasi bawang putih. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kestabilan komoditas strategis di Jakarta.


Arief Prasetyo, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya mengatakan, sebelumnya Food Station baru mendistribusikan beras, telur, minyak dan gula. "Kami juga menjual bawang putih, tetapi dalam jumlah sedikit dan berasal dari importir," ujar Arief kepada Kontan.co.id, Selasa (7/11).


Padahal, menurut Arief untuk dapat menjaga kestabilan pangan BUMD juga harus turut berkecimpung dalam menjalankan bisnis. Sehingga, BUMD seperti Food Station bisa mengetahui harga yang sebenarnya. Apalagi, selama ini Arief berpendapat, pendistribusian bawang putih dilakukan oleh pelaku swasta yang mengimpor dari Cina.


Arief menjelaskan, sejauh ini Food Station baru membicarakan tentang masalah impor bawang putih ini dengan Menteri Pertanian (Mentan). Dia bilang, Mentan mendukung segala upaya yang Food Station asalkan upaya tersebut bertujuan untuk menjaga kestabilan pangan. Dia pun mengatakan, Mentan memberikan izin asalkan Food Station bertanggung jawab penuh dan tidak menjual bawang putih tersebut secara delivery order (DO).


"Kami menghormati keputusan Mentan untuk memproduksi apa yang bisa diproduksi dalam negeri. Tetapi hingga bawang putih itu dipanen ada masa peralihan, kebutuhan atas bawang putih juga harus tercukupi," ujar Arief.


Sementara itu, menurut Arief dengan adanya impor bawang putih ini, BUMD bisa mempersiapkan pasokan bawang putih. Menurutnya, BUMD harus dapat memprediksi kapan harga murah dan kapan harga melonjak tinggi. Dia bilang, jangan sampai Food Station bergerak ketika harga sudah meningkat tajam.


Arief mengungkap hingga saat ini mereka masih mempelajari data yang ada semebari mempersiapkan infrastruktur yang diperlukan. Arief pun berharap impor bawang putih ini dapat dilakukan secepatnya. "Kita harus siapkan infratruktur hingga market, semuanya harus ada, kalau tidak, jangan dilakukan," kata Arief.


Mengenai anggaran impor, Arief mengatakan Food Station akan menggunakan dana dari hasil penjualan Food Station selama ini. Menurutnya tidak ada kendala untuk dana impor bawang putih. Dia pun memperkirakan, hasil penjualan yang didapatkan Food Station masih cukup untuk mengimpor bawang putih. Apalagi, nantinya hasil impor tersebut akan turut menyumbang keuntungan bagi Food Station.


Nantinya, bila Food Station sudah mendapatkan izin impor bawang putih, nantinya bawang putih tersebut akan diutamakan didistribusikan untuk pasar jaya sebanyak 153 pasar. Meski begitu, tidak menutup kemunginan bila bawang putih ini pun didistribusikan untuk pasar modern. "Yang penting harga di Jakarta stabil, dan masyarakat mendapatkan komoditas pangan dengan mudah," kata Arief.


Sampai saat ini Arief belum mengungkap berapa besar volume bawang putih yang harus diimpor Food Station. Namun, menurutnya rata-rata kebutuhan masyarakat Jakarta atas bawang putih sebesar 100 ton per harinya.


(Sumber: Kontan)