• Sat, 21 October 2017
12 Oct
Industri Keramik Diusulkan Dapat Gas Murah

Rabu, 11/10/2017

Pabrik keramik Arwana Citra Mulia Tbk - Bisnis.com


Bisnis.com, JAKARTA--Industri keramik diusulkan Kementerian Perindustrian agar mendapat gas dengan harga murah menyusul industri pupuk, petrokimia dan baja.


Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan keramik menjadi salah satu industri yang seharusnya segera mendapat harga gas murah. Seperti diketahui, pada paket kebijakan ekonomi jilid III yang terbit di akhir 2015, terdapat tujuh industri yang menjadi sasaran harga gas murah.


Namun, hampir dua tahun setelah kebijakan itu, baru pupuk, petrokimia dan baja yang mendapat diskon harga gas. Sisanya, oleochemical, keramik, kaca, dan sarung tangan karet masih belum mendapat harga yang lebih murah.


"Salah satu yang paling penting itu keramik," ujarnya di DPR, Selasa (10/10/2017).


Pertimbangan usulan industri keramik, tutur Airlangga, yakni tenaga kerja yang bergantung pada industri ini begitu besar. Selain itu, karena bahan bakunya berasal dari dalam negeri juga cakupan pasar yang bisa menyentuh pasar domestik dan luar negeri.


"Karena tenaga kerja banyak dan kita punya daya saing tinggi karena seluruh bahan bakunya dari dalam negeri dan punya domestic demand dan juga export."


Dia menyebut usulan tersebut telah disampaikan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Bahkan dia menilai penurunan harga gas yang berlaku untuk industri baja, pupuk dan petrokimia belum optimal karena hanya menyentuh badan usaha milik negara (BUMN).


Airlangga menuturkan secara daerah, Sumatera Utara dan Jawa Timur menawarkan harga gas yang tinggi. Namun, pihaknya belum mengetahui bila Kementerian ESDM akan mengeluarkan kebijakan baru tentang harga gas industri. Pastinya, dia telah mengusulkan agar harga gas untuk industri lain bisa turut menikmati harga gas murah.


"Yang swasta sudah diajukan juga. tinggal menunggu. Daerahnya secara nasional. [Yang tinggi harganya] ada di Jawa Timur, ada di Sumatra Utara."


Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia Elisa Sinaga menyatakan pabrikan keramik domestik amat menantikan realisasi janji pemerintah itu.


"Tapi sampai hari ini janji itu belum juga direalisasikan. Padahal kami sangat berharap janji itu bisa segera dieksekusi,” ujarnya.


Menurutnya, insentif penurunan harga gas merupakan faktor kunci bagi pabrikan untuk meningkatkan daya saing produk. Sebab biaya yang dikeluarkan produsen keramik domestik untuk biaya gas mencapai separuh komponen biaya produksi.


Rata-rata pabrikan keramik domestik masih menanggung biaya gas yang cukup tinggi, yaitu mencapai US$9 per million metric British thermal unit (MMBtu). Padahal, pabrikan negara negara kompetitor di pasar ASEAN setidaknya memperoleh harga di kisaran US$3—US$4 per MMBtu.


“Makanya sulit kalau memang mau menggenjot volume ekspor. Biaya gas untuk industri kita saja masih salah satu yang tertinggi di dunia,” kata Elisa.


(Sumber: Bisnis)