• Sat, 21 October 2017
03 Oct
Punya Pasar di RI, Batik Tak Kalah Saing dengan Pakaian Impor

Senin, 02/10/2017


Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance

 

Jakarta - Batik merupakan ciri khas serta budaya yang dimiliki Indonesia. Bahkan, pemerintah menetapkan hari ini, Senin (2/10/2017) sebagai Hari Batik Nasional. Batik telah menjadi warisan budaya yang perlu dijaga.

Saat ini, sejumlah daerah juga memiliki motif batiknya masing-masing, mulai dari batik Solo, Pekalongan, Jogja, Cirebon, dan lainnya. Mencari batik juga tak sulit dilakukan. Batik dari berbagai daerah sudah dapat ditemui di pusat-pusat perbelanjaan, salah satunya Trade Mal Thamrin City yang menjadi pusat batik di Jakarta.

Di era globalisasi ini, barang-barang impor termasuk pakaian memenuhi penjualan di pusat perbelanjaan, namun demikian, eksistensi batik masih diakui di masyarakat Indonesia. Mereka tak mudah tergantikan dengan banyaknya produk impor yang merajalela.


Seperti yang diakui salah satu penjual batik di Thamrin City bernama Priyo. Priyo mengatakan, minat masyarakat terhadap batik saat ini masih tinggi, hal itu terbukti dari penjualannya yang juga masih tinggi.

"Sampai sekarang penjualan batik masih tinggi, terutama di akhir pekan atau hari libur. Minat masyarakat masih tinggi dengan batik," kata Priyo saat berbincang dengan detikFinance di kiosnya, Jakarta, Senin (2/10/2017).

Priyo mengatakan, produk-produk impor yang telah banyak masuk ke pasaran belum bisa menggantikan eksistensi batik. Menurutnya, peminat batik memiliki segmentasinya sendiri.


"Masih bisa bersaing dengan pakaian impor, karena memang batik sudah ada pelanggannya sendiri kalau untuk batik. Orang-orang masih senang pakai batik," kata pria yang menjual batik khas Solo tersebut.

Senada dengan Priyo, Ian yang juga penjual batik di Thamrin City mengaku minat masyarakat terhadap batik masih tinggi. Dirinya pun mengaku tak khawatir dengan banyaknya produk pakaian impor yang masuk ke pasaran.

"Enggak khawatir, karena kita memang sudah ada pelanggannya sendiri. Batik juga kan bisa jadi pakaian sehari-hari, orang masih banyak yang pakai batik. Jadi enggak merasa terganggu dengan kehadiran baju impor," terangnya.

 

(Sumber: DetikFinance)