• Sat, 21 October 2017
10 Aug
IKM Segera Dapatkan Pasokan 8.000 Ton

 

Senin, 07 Agustus 2017

JAKARTA— Industri kecil dan menengah segera mendapatkan pasokan 8.000 ton garam dari PT Garam (Persero) yang merupakan stok realisasi penugasan impor garam bahan baku awal tahun lalu.


Langkah tersebut ditempuh untuk mengisi pasokan garam konsumsi di pasaran sambil menunggu masuknya impor garam bahan baku dari Australia, sehingga diharapkan mampu mengerek harga di tingkat konsumen.


“Hal ini untuk mengisi pasar sebelum impor datang. Ada sekitar 8.000 ton yang akan dikeluarkan,” papar Direktur Keuangan PT Garam Anang Abdul Qoyyum kepada Bisnis, Senin (7/8).


Anang mengungkapkan akan mendistribusikan pasokan di gudang Segoromadu, Jawa Timur serta Medan, Sumatra Utara kepada industri kecil dan menengah (IKM). Dia menyebut IKM yang mendapat jatah distribusi garam bahan baku tersebut harus berdasarkan rekomendasi Kementerian Perindustrian.


Keputusan itu merupakan arahan dari lintas Kementerian karena masih tingginya harga garam di pasaran. “Masih disiapkan atau diverifikasi siapa saja IKM yang mendapatkan pasokan. Namun, akan disebar merata ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan dari gudang di Medan akan disebar ke seluruh Sumatra.”


Di sisi lain, Anang mengungkapkan harga garam di tingkat petani untuk wilayah Cirebon dan Jawa Tengah mulai mengalami penurunan ke kisaran Rp2.900 per kilogram.


“Informasi garam dari impor sudah mulai sampai ke sana jadi mereka mulai menurunkan harga,” ujarnya.


Dia mengatakan untuk saat ini masih sulit tercipta harga Rp1.000 per kilogram di tingkat petani. Namun, jika target yang dipasang adalah Rp2.000 per kilogram hingga Rp2.500 per kilogram di tingkat petani maka hal itu dinilai memungkinkan.


“Target kita mudah-mudahan kena untuk harga di tingkat IKM,” imbuhnya.


Anang menambahkan proses loading atau pengapalan garam bahan baku garam konsumsi dari Australia telah dilakukan akhir pekan kemarin. Dibutuhkan waktu sekitar 20 jam sebelum akhirnya pasokan tersebut berangkat ke Indonesia.


Seperti diketahui, pada awal 2017, PT Garam telah mendapatkan penugasan impor 75.000 ton garam bahan baku garam konsumsi. Seluruh jatah izin yang diberikan telah direalisasikan pada April 2017.


Akhir Juli kemarin, PT Garam kembali mendapatkan penugasan impor setelah adanya gagal panen di sejumlah daerah. Pasokan garam tersebut dijadwalkan mendarat di Tanah Air pada 10 Agustus 2017 setelah diterbitkanya surat izin oleh Kementerian Perdagangan pada 2 Agustus 2017.

 

“Sesuai amanat Undang-undang bahwa petani garam harus dilindungi salah satunya dengan instrumen HPP,” paparnya seperti dikutip Bisnis, Senin (7/8).


Hasan menjelaskan memang saat ini terjadi kenaikan harga garam di tingkat petani akibat adanya kelangkaan di pasar. Namun, jika nanti telah terjadi panen raya maka harga bisa merosot hingga Rp500 per kilogram.


Saat ini, sambungnya, petani menikmati keuntungan karena harga garam berada di kisaran Rp3.500 per kilogram. Kendati demikian, dia mengatakan mulai terjadi penurunan harga menjelang panen pada akhir Agustus.


“Kondisi sangat jomplang antara harga pembelian dari petani dan harga yang sudah diolah oleh industri,” jelasnya.


Dia menambahkan pada akhir Agustus diprediksi para petani mampu menghasilkan 500.000 ton garam bahan baku. Hal itu menurutnya, didukung ramalan yang menyebut kondisi cuaca bakal dalam kondisi stabil sehingga tidak menggangu proses panen petani.


Penyerapan garam rakyat oleh PT Garam (Persero) masih berpatokan pada Peraturan Dirjen Perdagangan Luar Negeri No 2/Daglu/Per/5/2011 tentang Penetapan Harga Penjualan Garam di Tingkat Petani Garam yang menetapkan harga penjualan.


(sumber: KoranBisnisIndonesia)