• Sat, 21 October 2017
22 Jun
BENIH BAWANG PUTIH : Pertani Siapkan Lahan 1.365 Hektare

Rabu, 21/06/2017





JAKARTA – BUMN Pertanian PT Pertani menyiapkan lahan seluas 1.365 ha untuk menghasilkan benih bawang putih demi mengantisipasi kebutuhan pascapenerapan aturan wajib tanam dalam negeri bagi importir.


Direktur Utama PT Pertani (Persero) Wahyu mengatakan akan bekerjasama dengan petani di sentra bawang putih seperti Bima, Sembalun, dan Temanggung. Lahan seluas 850 ha diantaranya akan dimanfaatkan pada awal musim tanam Juli, sementara sisanya masuk musim tanam Oktober.


"Pertani akan menyerap hasil produksi petani untuk dijadikan benih. Dengan produksi 7.000 ton dan harga Rp30.000, maka anggaran yang disiapkan sekitar Rp21 miliar," katanya usai rapat koordinasi antara Kementerian Pertanian, PT Pertani, dan sejumlah petani bawang putih di Jakarta, Selasa (20/6).


Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian mencatat kebutuhan benih bawang putih demi mencapai swasembada pada 2019 diperkirakan 72.000 ton, sementara ketersediaan benih hingga 2019 dihitung sebesar 26.000 ton.


Sebelumnya, pemerintah mengharuskan importir mengantongi Rekomendasi Impor Produk Hortikultura dari Kementerian Pertanian sebelum melakukan importasi bawang putih per Juni tahun ini.


Untuk memperoleh RIPH tersebut, importir juga wajib menandatangani surat penyediaan wajib tanam bawang putih sebesar 5% dari kuota RIPH, seperti tertuang dalam Permentan No.16 Tahun 2017 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura. Adapun, pelaksanaan wajib tanam baru dilakukan mulai awal tahun 2018.


Di sisi lain, pelaku usaha optimistis kebijakan wajib tanam dalam negeri bagi para importir bawang putih dapat menyeimbangkan peningkatan kebutuhan konsumsi, meskipun tidak lantas menekan angka impor komoditas itu secara signifikan.


Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bawang Putih Indonesia Pieko Nyoto Setiadi mengatakan kewajiban ini tidak lantas dapat menekan angka impor karena hanya dikenakan 5% dari kuota Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) masing-masing.


Kementerian Pertanian memperkirakan kebutuhan bawang putih nasional pada 2018 sebanyak 500.000 ton. Namun, kebutuhan itu hanya mampu dipenuhi dari produksi dalam negeri sebanyak 20.000 ton per tahun. Dengan demikian, perkiraan impor bawang putih pada 2018 sebanyak 480.000 ton.


Dari perkiraan tersebut, jika 5% dari pengajuan impor dilakukan pengembangan bawang putih di dalam negeri, artinya, hanya ada penambahan 24.000 ton bawang putih dalam negeri.

"Semakin tahun kebutuhan meningkat. Kewajiban 5% ini bisa menyeimbangkan peningkatan kebutuhan konsumsi," imbuh Pieko saat dihubungi Bisnis, Selasa (20/6).


Pieko mengapresiasi upaya pemerintah menyiapkan lokasi tanam bawang putih. Namun, yang saat ini menjadi kendala adalah penyediaan benih unggul yang belum mencukupi. "Persiapan benih masih belum mencukupi. Seyogyanya, penanaman benih pada awal tahun diarahkan menjadi benih, bukan untuk produk," tuturnya.



BENIH CHINA

Sementara itu, Badan Litbang Pertanian dan Badan Karantina Pertanian bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor untuk menyiapkan uji coba penanaman benih bawang putih asal China.

Ujicoba dilakukan untuk mengetahui kecocokan benih dengan lahan tanam di Indonesia, sebelum akhirnya membuka peluang impor benih dari negara tersebut.


Direktur Perbenihan Hortikultura Sukarman mengatakan peluang impor benih asal China terbuka manakala ketersediaan benih bawang putih dalam negeri tidak mampu mencukupi kebutuhan benih bawang putih nasional.

Namun demikian, pemerintah tetap berupaya menggunakan benih bawang putih dalam negeri untuk penanaman di 2018, seiring kewajiban tanam bawang putih bagi importir mulai berlaku. "Semua penanaman di 2017 untuk dijadikan benih, seterusnya di 2018 dan 2019," imbuhnya.


Uji coba tanam benih bawang putih asal China dilakukan di empat titik lokasi masing-masing seluas 0,5 ha. Empat lokasi tersebut diantaranya, Desa Guci Kabupaten Tegal, Kabupaten Temanggung, Sembalun di Kabupaten Lombok Timur, dan Kabupaten Solok.

Ujicoba ini dilakukan mulai Juni, sementara hasil identifikasi dapat diketahui pada September. "Ini dilakukan jika kemungkinan impor. Namun, tetap mengutamakan benih dalam negeri," tutur Sukarman.

(sumber: KoranBisnisIndonesia)