• Sat, 21 October 2017
19 Jun
Impor Buah Naik Signifikan Selama Puasa dan Jelang Lebaran

Jumat, 16/06/2017


SURABAYA -- Menjelang puasa dan lebaran impor buah-buahan di Jawa Timur meningkat signifikan dibandingkan dengan komoditas lainnya.


Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jatim Teguh Pramono mengatakan impor buah-buahan sepanjang Januari 2017 hingga Mei 2017 dibandingkan dengan periode yang sama di 2016, maka pertumbuhannya mencapai 120,7% year on year (y-o-y).


"Jelang puasa dan lebaran ini cukup pengaruh, untuk impor buah-buahan, terutama apel dan kurma. Apel banyak diimpor dari China, kalau kurma dari Mesir, Iran, Aljazair, dan Tunisia," ujarnya di Surabaya, Kamis (15/6/2017).


Jika dirinci, Teguh menyebutkan impor apel pada Mei 2017 tercatat senilai US$21,13 juta atau naik dibandingkan April 2017 yang senilai US$20,55 juta. Adapun, nilai impor apel pada tiga bulan pertama tahun ini masing-masing senilai US$11,28 juta, US$15,80 juta, dan US$19,73 juta.


Sedangkan impor kurma pada Mei 2017 senilai US$896 ribu atau turun dari bulan sebelumnya yang senilai US$1,6 juta. Hingga bulan kelima, impor kurma paling tinggi terjadi di Maret 2017 di mana tercatat senilai US$1,79 juta.


"Kelihatannya impornya banyak dilakukan sebelum puasa, impornya sudah tinggi sebelum puasa," katanya.


Selain buah-buahan, komoditas sayuran juga mengalami kenaikan sebesar 56,03% secara tahunan sepanjang periode Januari 2017 hingga Mei 2017. Teguh menyatakan komoditas sayur-sayuran ini didominasi oleh bawang putih yang banyak masuk dari China dan sedikit dari Malaysia.


Secara nominal, impor non migas Jatim yang secara total senilai US$1,72 miliar didominasi oleh besi dan baja dengan nilai US$173,20 juta dan diikuti oleh mesin-mesin/peralatan mekanik senilai US$171,36 juta. Sedangkan impor migas mencapai US$236,06 juta. Dengan demikian, nilai impor keseluruhan Jatim pada Mei 2017 senilai US$1,96 miliar.


Provinsi dengan penduduk terbesar kedua di Indonesia ini masih mengalami defisit senilai US$0,28 miliar karena nilai ekspor masih lebih rendah dibandingkan impor, yakni US$1,68 miliar. Kendati masih mengalami defisit, Jatim menempati urutan ketiga daerah dengan nilai ekspor terbesar secara nasional.

 

(Sumber: Bisnis.com)