• Mon, 26 June 2017
19 Jun
IMPOR BAHAN BAKU : Pabrikan Genjot Produksi

Jumat, 16/06/2017


Aktivitas bongkar muat kontainer menggunakan Container Crane baru nomor 14 di dermaga internasional PT Terminal Petikemas Surabaya, Jawa Timur, Kamis (6/4).

JAKARTA—Peningkatan produksi jelang Lebaran mendorong pertumbuhan volume impor bahan baku. Kenaikan impor sekaligus menunjukkan ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri masih terbilang tinggi.


Badan Pusat Statistik mencatat impor bahan baku pada Mei 2017 mencapai US$10,54 miliar, atau meningkat 17,39% dibandingkan dengan April 2017 senilai US$8,95 miliar. Angka itu juga lebih tinggi 24,02% dibandingkan dengan nilai impor bahan baku pada periode yang sama tahun lalu.


“Impor bahan baku industri pengolahan naik tajam menjelang hari besar Idulfitri,” ujar Deputi BPS Bidang Statistik Sosial Sairi Hasbullah, Kamis (15/6).


Peranan impor bahan baku mencapai 76,27% dari realisasi impor pada Mei 2017 yang mencapai US$13,82 miliar. “Impor barang konsumsi dan barang modal juga naik, tetapi kenaikannya tidak signifikan,” ujar Sairi.


Impor barang konsumsi pada bulan yang sama mencapai US$ 1,28 miliar atau naik 16%. Sementara itu, impor barang modal tercatat senilai US$2 miliar atau tumbuh 7,19%.


Impor bahan baku pada Januari—Mei 2017 tercatat senilai US$47,24 miliar atau meningkat 17,63%. Pada periode yang sama tahun lalu, nilai impor bahan baku mencapai US$40,16 miliar.


“Di satu sisi, ini memperlihatkan manufaktur sedang berupaya meningkatkan produksi. Tapi di sisi lain ini juga sinyal yang perlu diwaspadai, ketergantungan manufaktur Indonesia terhadap bahan baku impor itu tinggi sekali,” ujar dia.


Sairi menyatakan pemasok bahan baku impor terbesar bagi manufaktur Indonesia adalah China. Pangsa bahan baku impor dari China mencapai 25% dari keseluruhan nilai impor. “Kalau ketersediaan bahan baku di sana bergejolak, maka industri kita yang bisa terdampak karena sumber bahan baku utama kita dari China.”


//Siklus Tahunan//


Pada perkembangan terpisah, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Adhi S. Lukman menyatakan pabrikan makanan minuman selalu menyesuaikan produksi dengan siklus permintaan tahunan. Menurut dia, permintaan selalu terdongkrak signifikan pada periode Ramadan dan Lebaran.


“Produksi masih digenjot terus karena kami berharap begitu periode pencairan THR Lebaran tiba, daya beli dapat naik lebih tajam lagi,” ujar Adhi, Kamis (15/6).


Kenaikan permintaan pada periode ini diperkirakan dapat mencapai 20% dari periode normal. Pabrikan domestik menggenjot produksi agar dapat menyaingi produk impor yang biasa membanjiri pasar.

 

(Sumber: KoranBisnisIndonesia)