• Tue, 12 December 2017
16 Jun
NERACA PERDAGANGAN MEI 2017: Impor Bawang Putih dan Daging Diprediksi Naik

Kamis, 15/06/2017

Pekerja menata tumpukan bawang putih saat operasi pasar bawang putih di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (2/6).

JAKARTA— Impor sejumlah komoditas bahan pangan khususnya bawang putih dan daging sapi diprediksi mengalami kenaikan pada Mei 2017 sehingga berdampak terhadap terkoreksinya surplus perdagangan Indonesia.


Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati meyakini akan terjadi kenaikan nilai impor pada sejumlah komoditas pangan. Dia menyebut komoditas itu antara lain bawang putih dan daging.


“Daging yang pasti naik karena untuk pemenuhan naiknya permintaan pada saat Lebaran,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (14/6).


Selain daging, dia menyebut bakal terjadi kenaikan nilai impor untuk bawang putih. Pasalnya, Indonesia masih mengandalkan impor untuk menutupi kebutuhan domestik.


Enny menilai jika jumlah bawang putih yang digelontorkan ke dalam negeri tidak ditambah maka akan kembali terjadi kenaikan harga. Hal itu telah terbukti saat pasokan impor terlambat masuk ke pasaran.


Dia menambahkan impor gula juga akan mengalami kenaikan pada Mei 2017. Menurutnya, tradisi di beberapa daerah yang menjadikan gula sebagai oleh-oleh mendorong pertumbuhan nilai impor komoditas itu.


Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan impor bawang putih memang bakal mengalami kenaikan. Hal itu guna mengalirkan pasokan ke pasaran.


Terkait pasokan daging, Dia mengatakan tidak ada penambahan izin impor. Menurutnya, tinggal bagaimana para importir merealisasikan izin yang didapatkan.


“Asal izin impor daging segera direalisasikan maka cukup. Selain itu, pasokan dalam negeri juga sudah memadai,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (14/6).


Bawang putih, sambungnya, memang tengah dialirkan ke pasaran untuk menekan harga. Namun, untuk beberapa komoditas lain untuk kebutuhan Ramadan dan Lebaran dinilainya telah mencukupi.


Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada periode Maret 2017—April 2017 terjadi kenaikan impor untuk dua komoditas pangan yakni biji gandum dan kedelai. Nilai impor gandum naik dari US$167,23 juta menjadi US$214,04 juta.


Sementara itu, data BPS juga menyatakan terjadi kenaikan impor untuk komoditas kedelai pada periode itu. Impor kedelai naik dari US$92,62 juta menjadi US$108,01 juta.


Di sisi lain, impor sejumlah komoditas justru mengalami penurunan secara month on month pada April 2017. Komoditas tersebut antara lain jagung, tepung terigu, daging jenis lembu, bawang putih, dan cabai kering.


Nilai impor jagung misalnya, turun dari US$12,35 juta pada Maret 2017 menjadi US$1,29 juta. Hal serupa juga terjadi pada komoditas beras yang turun dari US$14,16 juta menjadi US$13,63 juta.


HARGA STABIL


Sementara itu, berdasarkan pantauan Bisnis melalui sistem pemantauan pasar kebutuhan pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan (Kemendag), pada Rabu (146), tidak terjadi kenaikan harga komoditas bapok yang signifikan. Laman tersebut menunujukkan bahwa harga minyak goreng, kedelai, telur ayam, dan cabai besar justru mengalami penurunan.


Harga telur ayam misalnya turun dari hari sebelumnya Rp23.018 per kilogram menjadi Rp22.825 per kilogram. Minyak goreng juga mengalami penurunan harga dari hari sebelumnya Rp11.502 per liter menjadi Rp11.496 per liter.


Menjelang Ramadan dan Lebaran 2017, Kemendag mengeluarkan tiga Permendag yakni Permendag Nomor 20 Tahun 2017 tentang Pendaftaran Pelaku Distribusi Barang Kebutuhan Pokok, Permendag Nomor 27 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen, serta Permendag Nomor 30 Tahun 2017 tentang Ketentuan Impor Produk Holtikultura.


Kemendag menyebut stok bahan pokok yang berada dalam penguasaan pemerintah saat ini adalah bawang merah 2.000 ton, bawang putih 1.000 ton, minyak goreng 1,5 juta ton, daging 86.620 ton, serta gula 460.000 ton.


(Sumber: KoranBisnisIndonesia)