• Mon, 26 June 2017
15 Jun
NERACA PERDAGANGAN MEI: Meski Tergerus, Tren Surplus Diprediksi Berlanjut

Rabu, 14/06/2017 02:00 WIB


Kegiatan bongkar muat kontainer di Terminal Teluk Lamong, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (19/3).


JAKARTA— Sejumlah pihak memprediksi surplus perdagangan Indonesia terus berlanjut pada Mei 2017 meski tergerus peningkatan impor barang konsumsi terutama komoditas pangan seiring dengan pemenuhan kebutuhan Ramadan dan Lebaran 2017.


Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira memproyeksikan neraca perdagangan Indonesia tetap mengalami surplus di kisaran US$1,19 miliar—US$1,25 miliar. Hal tersebut menurutnya ditopang kenaikan nilai ekspor pada rentang US$12,18 miliar—US$13,4 miliar.


“Ada beberapa faktor yang perlu dicermati salah satunya tren harga minyak yang fluktuatif pada Mei 2017,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (13/6).


Pada Mei 2017, sambungnya, posisi harga minyak terendah ada di titik US$46,2 per barel (5/5) dan tertinggi US$51,47 per barel (23/5). Oleh karena itu, dia memprediksi surplus perdagangan bakal terkoreksi dengan batas bawah US$1,19 miliar.


Dari sisi impor, Bhima menyebut ada kecenderungan kenaikan selama Januari 2017—April 2017. Pertumbuhan nilai impor tercatat 7,59% secara year on year pada periode tersebut.


“Kalau kita lihat kenaikan impor salah satunya yang tertinggi ada di barang konsumsi termasuk bahan pangan yang tumbuh 7,78% di periode Januari 2017—April 2017,” paparnya.


Dia menekankan bahwa impor pangan untuk Ramadan akan berdampak kepada surplus perdagangan Indonesia. Selain itu, perbaikan permintaan di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan China masih terbatas.


Bhima menilai Negeri Panda saat ini masih melakukan proses penyeimbangan ulang terhadap perubahan orientasi dari ekspor menjadi ke arah konsumsi domestik. Akibatnya, pertumbuhan di negara itu juga belum optimal.


“Industri manufaktur di China juga masih lesu dan daya beli masyarakatnya masih lemah,” jelasnya.


Sementara itu, Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal memprediksi ekspor nasional akan mengalami kontraksi sebesar 0,6%. Dia juga menilai bahwa melemahnya permintaan dari China akan berdampak kepada permintaan barang dari Indonesia.


Di sisi lain, dia menilai neraca perdagangan bakal mengalami surplus meski terjadi penurunan akibat kenaikan impor pasokan bahan makanan. “Saya masih melihat masih ada kecenderungan surplus meski marginnya menipis dibandingkan rata-rata kuartal pertama 2017.”


Ekonom Center Of Reform Economics (CORE) Mohammad Faisal meyakini impor bahan pangan akan mengalami kenaikan. Dia memprediksi terjadi kenaikan impor bahan pangan 25%—30% dari April 2017 ke Mei 2017.


“Secara keseluruhan impor naik sekitar 2% tetapi neraca perdagangan bulan Mei 2017 masih surplus,” jelasnya.


Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Bidang Perdagangan Benny Soetrisno menilai pertumbuhan ekspor nasional pada Mei 2017 akan sulit menembus dua digit. Hal itu disebabkan oleh perekonomian China yang masih lesu.


Kendati demikian, dia menyebut neraca perdagangan nasional masih terbantu kenaikan harga sejumlah komoditas. Dia menyayangkan ekspor sektor manufaktur yang belum menjadi penopang pertumbuhan eksor Indonesia


“Perjanjian dagang yang sedang digarap oleh Indonesia dengan beberapa negara baru baru akan berdampak pada 2019,” ujar Benny.

 

(sumber: KoranBisnisIndonesia)