• Tue, 12 December 2017
12 Oct
Varietas Lokal Bisa Masuk Beras Khusus

KATEGORI BAHAN PANGAN

Selasa, 10 Oktober 2017

JAKARTA – Beras varietas local yang telah melalui proses pemutihan dapat dimasukkan ke dalam kriteria beras khusus sehingga memiliki rentang harga berbeda dari yang berkategori medium dan premium.


Varietas lokal tersebut dapat didaftarkan melalui pemda setempat ke Tim Penilai dan Pelepas Varietas. Ini disertai kelengkapan data meliputi luas tanam, data produktivitas, sifat morfologi tanaman, hingga ketahanan terhadap hama penyakit. Setelah data lengkap, bisa masuk ke proses pelepasan varietas dan digolongkan beras khusus.


Kementerian Pertanian mencatat hingga September 2017, ada 29 varietas padi lokal yang telah melalui proses pemutihan dan dilepas secara nasional. Sejumlah varietas ini diantaranya Anak Daro dari Sumatra Barat, Rojolele dari Jawa Tengah, dan Tarabas dari Jawa Barat.


Varietas Pandanwangi Cianjur merupakan varietas yang terdaftar sebagai produk indikasi geografis telah dilepas secara nasional. Adapun, hingga Oktober 2016, ada 52 produk terdaftar sebagai indikasi geografis. Selain Pandanwangi Cianjur dari Jawa Barat, adapula beras Adan Krayan dari Nunukan, Kalimantan Utara.


Kepala Balai Besar Penelitian Padi Kementerian Pertanian Ismail Wahab mengatakan varietas lokal Mentik Wangi dari Magelang tengah dalam proses pelepasan varietas oleh Kementerian Pertanian. Setelah proses pelepasan selesai, maka Mentik Wangi masuk dalam kategori beras khusus.


“Selama belum didaftarkan maka masuk dalam kategori premium dan medium. Padahal, varietas lokal dengan masa tanam lebih lama dan produktivitas lebih sedikit semestinya perlu memperoleh harga khusus,” kata dia, Senin (9/10).


Permentan No. 31/2017 membagi mutu beras yakni beras medium, premium, dan beras khusus. Penjualan beras medium dan premium dibatasi oleh harga eceran tertinggi. Sebaliknya, penjualan beras khusus tidak dibatasi oleh harga eceran tertinggi.


Termasuk dalam beras khusus adalah beras indikasi geografis yang terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, atau varietas lokal yang telah mendapatkan pelepasan oleh Menteri Pertanian.


PERAN PEMDA

Sementara itu, Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Mulyadi Hendiawan meminta pemerintah daerah aktif memfasilitasi kelompok tani mendaftarkan varietas lokal sehingga terdaftar sebagai beras khusus.


Dia menyampaikan dalam sosialisasi beras khusus pada Jumat (29/9), banyak pertanyaan dari pelaku usaha mengenai beras varietas Jembar Bandung.


“Kalau itu varietas lokal, maka dinas supaya memfasilitasi agar masuk kategori beras khusus. Selanjutnya akan kami cek. Karena selama ini banyak sekali yang mengklaim varietas lokal,” kata dia, Senin (9/10).


Jembar merupakan varietas beras lokal yang dibudidayakan di Bandung, sebagai subtitusi beras Thai Hom Mali atau Jasmine dari Thailand, yang memiliki derajat pecah 5%. Jembar yang memiliki produktivitas rendah dan masa panen lebih dari 4 bulan itu belum melalui proses pelepasan varietas. (Azizah Nur Alfi)


(Sumber : KoranBisnisIndonesia)